Beranda Kolom Mencari Kembali Budaya Demokrasi

Mencari Kembali Budaya Demokrasi

0
 
Oleh : Himawan Sutanto
Pemerhati budaya politik 
Bangsa Indonesia yang dikenal baik budi pekertinya kini mengalami kegundahan yang besar. Dimana sopan santun yang menjadi ciri dan unggulan peradaban kita berangsur-angsur hilang karena dominasi politik kekuasaan belaka. Hal itu dilihat semenjak politik sebagai sarana untuk perjuangan perubahan lalu bengeser ke  arah kekuasaan belaka. Hal itulah yang membuat budaya politik kita menjadi berbeda dan asing.
Karena budaya politik merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat dalam lingkup yang lebih spesifik. Meliputi masalah pengaturan, kekuasaan, proses pembuatan  kebijakan pemerintah, dan legitimasi. Demikian Pengertian budaya politik di Indonesia mencakup hal yang lebih luas.
Untuk lebih jauh, bahwa pengertian budaya lebih fokus kepada cara hidup yang dimiliki bersama dan berkembang dalam suatu sistem sosial yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya ini akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi gagasan atau suatu ide yang terdapat dalam pemikiran manusia. Berikut beberapa pengertian budaya politik yang dapat dijadikan sebagai pedoman untuk lebih memahami kembali.
Sidney Verba, seorang ahli politik dari Amerika mengatakan bahwa budaya politik adalah suatu sistem kepercayaan empirik, nilai-nilai yang menegaskan suatu situasi, symbol-simbol ekspresif dimana tindakan politik itu di lakukan.
*Demokrasi tanpa nurani*
Sepertinya kita gampang mengatakan demokrasi,  tapi gamang mengatakan suara hati nurani. Ada apa dengan hati nurani kita?  Demikian pertanyaan kita sekarang ini?
Persoalan diatas memberi kita yang cukup untuk menjawab, tapi ketika dunia sudah berubah dan tehnologi sudah menjadi tuntutan kebutuhan utama di dalam kehidupan. Kita mungkin akan dianggap kuno, jika saku kita tidak ada Hp androidnya. Kita juga akan dianggap ketinggalan jaman kalau kita tidak bisa memakai alat komunikasi yang serba canggih.
Tapi itulah faktanya, dimana demokrasi sudah bisa dihentikan dengan dua jempol tangan yang bergerak. Dimana cara berpikir sangat amat menjadi instan. Sementara budaya menulis dan mengetik dengan komputer, atau laptop menjadi tertinggal, atau mulai ditinggalkan. Karena kecepatan tangan melebihi kecepatan berfikir manusia. Sehingga dunia menjadi sesak ketika sosial media merajai ruang publik.
Hal diatas adalah realitas yang nyata dan jelas. Sehingga ruang kontemplasi menjadi tidak ada. Disinilah terjadinya suasana hati nurani kita menjadi hilang atau tidak berfungsi. Jadi demokrasi yang lahir dari sosial media menghilangkan substasi sebenar-benarnya.
Marilah kita mulai kembali dengan budaya membaca dan memperbanyak literasi untuk menjawab kegelisahan bersama tentang demokrasi yang jauh dari hati nurani. Hal itu juga sebagai pembelajaran bersama tentang hakekat manusia. Jangan pernah menganggap persoalan diatas menjadi sesederhana mungkin. Karena kita akan memasuki paradigma baru politik dunia paska virus covid 19. Dimana tatanan politiknya pasti berubah dan kita tidak boleh terjebak dengan ketidak tahuan.**
#lawancorona
#StayAtHome

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here