Beranda Kolom Rakyat Butuh Income Bukan Negara Banyak Kepala

Rakyat Butuh Income Bukan Negara Banyak Kepala

0
Oleh Himawan Sutanto
Pemerhati budaya politik
Beredarnya video yang sempat viral di Batam menjadi duka yang mendalam bagi bangsa Indonesia. Dimana seorang perempuan jatuh pingsan karena kelaparan.
Video tersebut sempat Viral di media sosial karena seorang warga Batam yang pingsan secara tiba-tiba di pinggir jalan ternyata bukan karena Corona atau COVID-19.
Berdasarkan informasi yang diterima perempuan tersebut pingsan dikarenakan kelaparan dan sudah tidak mampu lagi mengontrol kesadaran dirinya.
Kasus diatas adalah memilukan kita semua, dimana Presiden Jokowi membagi-bagikan sembako di Jakarta dan Bogor Jawa Barat. Hal itu dilakukan Jokowi, ketika Gubernur DKI Jakarta sedang melaksanakan PSBB dengan mengantar bungkusan ke warga yang kurang mampu. Pertanyaannya ada apa dengan kasus diatas?
Rakyat butuh INCOME
Dalam menghadapi wabah virus covid 19, kita harus bergandeng tangan untuk membantu rakyat yang sedang susah. Tapi dengan pendekatan politik, rakyat juga yang memiliki dampak paling besar. Dimana PSBB dijalankan, banyak rakyat yang kesulitan mendapatkan income atau nafkah buat keluarganya.
Hal itu terjadi bagi buruh, ojol, pedagang atau ekonomi informal yang selama ini telah menopang perekonomian kita menjadi kuat. Sepertinya pemerintah tidak siap atas wabah tersebut diatas, kecuali DKI Jakarta yang memulai PSBB pada tanggal 10 April 2020. Dimana pemprov memberikan bantuan kepada rakyat miskin yang memiliki Ktp atau tidak, tapi tinggal di Wilayah Jakarta. Ketidak siapan itu justru pada pemerintah pusat, hal itu nampak ketika sebuah peraturan PSBB diabaikan oleh para pejabatnya sendiri. Kita jadi bingung bahwa peraturan tersebut dijalankan atau perlu dilanggar oleh pejabat lainnya?
Negara banyak kepala
Sangat ironis, kekayaan yang besar dan dimiliki bangsa ini tidak mampu berdiri kuat memberikan yang terbaik bagi rakyatnya. Bagaimana cara pengelolaannya?  Pertanyaan ini yang selalu muncul dikepala orang yang waras, tanpa mau melihat latar belakang politiknya. Sepertinya pertanyaan diatas juga sulit dijawab jika kita bicara kepentingan belaka.
Tahun 2019 sebelum wabah datang sudah diingatkan para ekonom, bahwa perekonomian tidak akan tumbuh lebih dari 4 persen. Hal itu dianggap angin lalu oleh pemerintah. Dimana hutang masih menjadi andalannya. Bahkan hutang sekarang sudah lebih dari 6000 T, tapi masih saja mendapatkan hutang lagi.
Setelah wabah virus covid19 meluluh lantahkan ekonomi dunia, Indonesia dengan amat gampang menjadikan vius covid19 sebagai alibinya.  Inilah awal dari kebohongan dan ketidak seriusan para pejabat dalam menangani dampak tersebut.
Jatuhnya perempuan di Batam membuktikan bahwa kondisi ekonomi kita memang tidak berpihak ke rakyat. Melainkan rakyat hanya menjadi korban ketidak adilan negara terhadap nasibnya. Kalau saja dari awal pemerintah mau mendengarkan masukan dan tidak membuat virus covid19 menjadi bahan lelucon pejabat, mungkin akan berbesa. Pemerintah sampai sekarang masih kurang serius dalam penangannya. Dimana dalam kondisi social distancing seharusnya dirumah, tapi kenyataannya Jokowi sebagai Presiden tidak menunjukan contoh yang baik dengan mengumpulkan orang dan bagi-bagi sembako. Sepertinya tak mau kalah dengan langkah Anis yang mendapat banyak apresiasi akan sikapnya.
Itu semua karena persaingan politik yang tidak sehat bagi bangsa dan negara. Sepertinya para kepala rumah tangga di Indonesia lebih membutuhkan income demi kelangsungan hidupnya, dibanding negara yang banyak kepala. Semua rakyat pasti mendukung, jika ada sikap legowo pemerintah pusat dalam menangani Prioritas kasus virus diatas. Seperti Presiden Ghana yang mengatakan Menghidupkan ekonomi lebih gampang dan saya tidak tahu bagaimana menghidupkan kembali manusia yang sudah mati.***
#lawancorona
#StayAtHome

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here