Beranda Kolom Normalitas Baru Ba Rirayo / Lebaran Idul Fitri

Normalitas Baru Ba Rirayo / Lebaran Idul Fitri

0

Oleh : Syafrizal Harun

ALHAMDULILLAH….!!!!,  kita telah menyelesaikan ibadah Ramadhan 1441 H, menutupnya dengan merayakan Idul Fitri (ba rirayo/Lebaran/Minang). Rirayo kali ini jatuh pada Ahad, 24 Mei 2020, ditengah mewabahnya virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19, terkait dengan wabah penyakit tersebut, suasana ri rayo abnormal, karena menyimpang secara menyolok dari kebiasaan.

Biasanya, malam menjelang hari-H ri rayo, berkumandang takbir, tahlil, dan tahmid bersahut-sahutan, kumandang itu berlanjut hingga subuh dan paginya berbondong-bondong umat menuju lapangan atau mesjid besar untuk melaksanakan shalat Id.

Ketika selesai shalat, jamaah berkerumun dan saling bersalaman sambil menyampaikan selamat ri rayo dan maaf lahir batin lalu pulang ke rumah, keluarga berkumpul, mulai kakek, nenek, anak, menantu, dan cucu, untuk saling bersalaman, cipika cipiki,  memohon maaf lahir batin, dan kemudian makan kue atau ketupat atau nasi dengan lauk pauk khusus.

Setiap orang berbusana rapi, bersih, dan harum, dan anak-anak berpakaian baru. Uang recehan jenis baru bertebaran dibagikan ke  anak-anak. Semuanya bergembira.

Esoknya hingga sepekan kedepan, jaringan jalan raya penuh dengan kendaraan, mulai roda dua, roda empat, dan roda enam, tempat-tempat wisata padat dikerumuni pengunjung, ruas jalan raya Padang – Padang Panjang – Bukittinggi – Payakumbuh,  macet parah. Itu cerita  dahulu kala, sebelum wabah.

Untuk ri rayo kini, tidak demikian. Banyak anggota keluarga terputus kontak fisiknya karena berjauhan, dan memang sengaja tidak pulang kampung. Bahkan sebagian warga ada yang telah tertular wabah dan diisolasi atau dirawat di rumah sakit, atau telah dikubur karena meninggal oleh penyakit Covid-19. 

Di ri rayo kini, kumpul-kumpul untuk takbir, tahlil dan tahmid tidaklah semarak. Shalat Id di lapangan atau mesjid besar hanya diselenggarakan pada beberapa korong suatu nagari. Protokol kesehatan baku untuk mengelola wabah adalah “menjaga jarak antar orang (physical distancing), pakai masker, dan cuci tangan dengan sabun”.

Protokol itu tidak memungkinkan orang berkumpul berdempet seperti kebiasaan ri rayo sebelum wabah. Banyak keluarga melaksanakan shalat tarawih, dan juga shalat Idul Fitri di rumah masing-masing dengan imam dan khatib dilakonkan oleh kepala rumah tangga sendiri.

Untuk saling kunjungan, kini tersedia teknologi informasi yang memungkinkan orang-orang yang berjauhan dapat melakukan pertemuan di media sosial, contohnya dengan aplikasi Zoom. Tetapi, pertemuan di dunia maya ini, juga bukan kebiasaan alias abnormal untuk ba rirayo.

Selain menggerogoti kesehatan, dampak ekonomi dari wabah itu telah menambah jumlah pengangguran, sehingga jumlah orang miskin meningkat. Efek dari wabah merupakan rangkaian yang bermuara pada suasana ri rayo yang secara total adalah abnormal.

Sementara itu, prospek penanggulangan wabah, cukup suram. Para ahli, termasuk badan resmi semacam WHO, mengatakan untuk menemukan dan memproduksi obat serta vaksin untuk Covid-19 memerlukan waktu paling sedikit dua tahun. Dan kalaupun sudah ada obat dan vaksin, diprediksi bahwa virus SARS-CoV-2 itu tetap ada di relung kehidupan manusia.

Ancaman virus tersebut bersifat permanen,  atau setidaknya ancaman akan berlanjut ke masa depan yang cukup lama. Malahan diperkirakan, virus akan mewabah secara bergelombang, “ada gelombang pertama, dan ada gelombang kedua”. Oleh karenanya, protokol kesehatan yang kini diterapkan di seluruh dunia, kedepan akan  berlaku sebagai prosedur tetap, dan menjadi normalitas baru di berbagai kegiatan manusia.

Cerita tentang wabah Covid-19 masih berlanjut dengan selesainya puasa Ramadhan 1441 H. Berbagai persoalan terkait wabah akan muncul di waktu dekat, mencakup, pengendalian wabah dan penanggulangan penderita Covid-19, pengelolaan para pengangguran yang tentu saja tetap berupaya memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, dan papan (rumah), dan keberlanjutan program pendidikan anak-anak sekolah.

Dampaknya juga akan merembet ke ber-aneka kegiatan bisnis seperti transportasi, pariwisata, hiburan, perhotelan, olahraga massal, dan perdagangan eceran (retail). 

Persoalan demikian, akan menjadi urusan bersama antara rakyat dan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Kita tentu berharap agar penderita Covid-19 tidak bertambah, dan mereka yang telah tertular segera sembuh dan beraktivitas kembali. Semoga kita dapat keluar dari masa sulit ini, dengan sehat dan sejahtera.***

Penulis adalah seorang pemerhati dan aktifis sosial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here