Beranda Kolom Benarkah PKI / Komunisme Issue Seksi Dalam Politik Indonesia ?

Benarkah PKI / Komunisme Issue Seksi Dalam Politik Indonesia ?

0


Oleh: Kasra Scorpi

Setelah reformasi 1998, pada setiap pertengahan tahun menjelang bulan September, isu PKI selalu seksi, menjadi pembicaraan hangat di tengah masyarakat.Tokoh nasional, media, termasuk media sosial, pimpinan lembaga sampai kepada masyarakat awam turut meramaikan isu tersebut. Berbeda dengan zaman Orde Baru dimana orang takut dan menghindar membicarakan yang satu ini.

Yang menjadi item pembicaraan adalah, soal atheisnya PKI, kekejamanya, fitnahnya, tokohnya, dalangnya, lambang palu aritnya, kebangkitanya kembali, serta film G 30 S PKI yang disutradari Arifin C Noer dan macam-macam lagi.

Baca juga : /bung-karno-tan-malaka-secita-cita-namun-berbeda-rasa/

Biar banyak yang mengatakan ideologi komunis gagal dan telah mati serta PKI telah dijadikan partai terlarang di Indonesia, isunya tetap seru apalagi dikalangan yang berminat bicara politik tanah air.

Maklum saja PKI itu partai politik yang telah berkali-kali merebut kekuasaan di tanah air yang menelan banyak korban, walaupun setiap kali pemberontakan selalu digagalkan.

Di tanah air kita, embrio faham komunis/Marxisme dibawa oleh Henk Sneevliet dari Belanda yang dikembangkanya melalui organisasi Indische Social Democratische(ISDV) 1914.

Baca juga : /pancasila-bukan-ciptaan-bung-karno/

Pada Kongres ISDV di Semarang (Mei 1920), nama organisasi ini diubah menjadi Perserikatan Komunis di Hindia (PKH). Semaun adalah ketua dan Darsono menjabat sebagai wakil ketua. Sekretaris, bendahara, dan tiga dari lima anggota komite adalah orang Belanda. PKH adalah partai komunis Asia pertama yang menjadi bagian dari Komunis Internasional.

Kemudian faham marxisme menyusup ke dalam Sarekat Islam(SI) sehingga sarekat itu terpecah menjad SI merah berhaluan komunis dan SI putih berhaluan Islam. Tokoh SI putih HOS Cokro Aminoto, H.Agussalim, tokoh SI merah Semaun Darsono. Akhirnya Semaun dan Dharsono mendirikan PKI.

Baca juga : /simalakama-pemerintah-di-hari-raya-idul-fitri/

Sebagai intermezo, Cokro Amito orangnya berkumis, H Agussalim berjenggot. Dalam sebuah pertemuan, ketika Cokro Aminto datang kelompok pro SI merah berteriak “hewan apa yang berkumis” dijawab sendiri ramai-ramai, “kuciiiiiiiiig”, saat H Agussalim masuk, kelompok ini berteriak lagi ” apa yang berjenggot” dijawab sendiri, “kambiiiing, mbeeek”.

Lalu saat H Agussalim berpidato, ia mengulangi lagi, apa tadi yang berkumis, dijawab SI merah kucing, apa yang yang berjenggot dijawab kambing, dilanjutkan Agussalim, hewan apa yang tidak berkumis tidak berjenggot, “Anjiiii,,ng” jawab kelompok SI putih. Kebetulan tokoh SI Merah, Semaun polos tidak berkumis tidak berjenggot.

Baca juga : /mudik-dan-pulang-kampung/

Begitulah! Seteru saling sindir antar kelompok pendukung tokoh politik sebenarnya telah ada juga sejak zaman pergerakan kebangsaan, seperti halnya seteru cebong-kampret-kadrun saat ini.

Kembali ke “laptop”,perkembangan ideologi komunis turut diilhami oleh Revolusi Rusia Oktober 1917 oleh kaum Komunis(Kelompok Bolshevik), dipimpin Vladimir Lenin dan Leon Trostky yang mampu menjatuhkan pemerintahan kaisar Rusia dan menggantinya dengan pemeritahan Uni Soviet.

Lalu Uni Soviet membentuk Communist International (Commintern) untuk menyebarkan faham komunisme ke seluruh dunia.

Kaum komunis dalam perjuanganya dikenal radikal, revolusioner, keras, memberontak menggunakan militer.

Dalam masa pergerakan kebangsaan Indonesia, dari sekian banyak organisasi pergerakan hanya PKI yang berani melakukan perlawan pisik terhadap pemerintahan Hindia Belanda melalui pemberontakan bersenjata tahun 1926, namun gagal dan banyak tokohnya diasingkan ke Boven Digul di Papua. Akibatnya PKI mati suri hingga kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Setelah Indonesia merdeka, tokoh PKI kembali muncul, Musso yang sebelumnya melarikan diri ke Uni Sovyet memimpin pemberontakan di Madiun, Jawa Timur pada tahun 1948 namun pemberontakan ini berhasil dipadamkan.

Dalam penumpasan gerakan Muso, Bung Karno berpidato, ” ikut Muso atau Bung Karno,,,”

Baca juga : /demokrasi-di-tengah-pandemi/

Pada tahun 1950an PKI kembali bangkit dipimpin oleh DN Aidit, ditangan Aidir PKI mengalami perkembangan cukup pesat dan ikut dalam pemilihan umum 1955 dan keluar sebagai 4 besar pemenang dengan hasil:
1.PNI memperoleh 119 kursi, Masyumi 112 kursi, NU 91 kursi dan PKI 80 kursi.
Sehingga badan konstituante/parlemen dikuasa kelompok, Nasional, Agama dan Komunis(Nasakom).

Ternyata Nasakom tidak bisa bersatu, berseteru tanpa akhir, sehingga presiden Soekarno mengeluarkan dekrit 5 Juli 1959 yang membubarkan badan ini.

Baca juga : /beruk-tidak-pernah-menyeleweng/

Tanggal 30 September 1965 terjadi lagi gerakan penculikan dan pembunuhan sejumlah jenderal TNI angkatan darat yang disebut G 30 S/PKI disamping itu ada istilah lainya yakni(Gestok, G 30 S-PKI, Gestapu)

Setelah ditumpas akhirnya secara politik Partai Komunis Indonesia (PKI) dilarang melalui TAP MPRS/25/19U6.

Namun peristiwa tersebut masih menyisakan polemik di tengah masyarakat termasuk dikalangan akademisi.

Baca juga :/logika-dan-pikiran/

Yang menjadi polemik berkepanjangan adalah siapa sebenarnya dalang gerakan ini, apakah dalangnya tunggal atau bersama? Soal siapa pelaku lapanganya sangat jelas yakni tentara Cakrabirawa dipimpin Letkol Untung, dimana pasukanya dibagi atas 7 kelompok untuk menculik 7 orang perwira TNI-AD.

Sementara itu 3 orang tokoh sentral yang terkait dalam lingkaran peristiwa ini, Soeharto, Bung Karno, Aidit tidak pernah dikonfrontir dalam sebuah mahkamah hukum mengenai peristiwa ini, begitupun Kamaruzaman yang disebut- sebut memiliki peran penting dalam peristiwa ini hilang begitu saja.

Baca juga : /sudah-tua-masih-tk/

Isu-isu seputar dalang dan kebangkitan PKI kembali inilah yang menjadi polemik hangat di “simponi” politik dan media/Medsos di tanah air saat ini***

Penulis adalah wartawan senior dan penggiat media sosial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here