Beranda Pojok Dedi Mahardi Agama dan Budaya Sisa Kotaknya

Agama dan Budaya Sisa Kotaknya

0

Oleh : Dedi Mahardi

Rasulullah bersabda “sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia” (HR. Al-Baihaqi).

Tidak ada satupun ayat atau hadist yang menyatakan bahwa sesungguhnya rasulullah diutus untuk membuat tempat ibadah sebanyak-banyaknya atau sebesar-besarnya diseluruh dunia. Begitu juga dengan masjid atau tempat ibadah lainya, yang ada adalah anjuran atau perintah agar supaya memakmurkan masjid atau mengutamakan fungsi kegunaannya.

Artinya apa dari kedua pedoman ini? Adalah bahwa yang utama atau yang pokok dari ajaran agama adalah isinya, bukan kotaknya atau bungkusnya. Begitu juga kelak yang akan dikumpulkan di Padang Mahsyar adalah ruh yang sekarang adalah isi dari jasad atau tubuh manusia. Hal ini tentu saja bukan karena Tuhan tidak mampu atau tidak mau membuat kembali jasad manusia lalu mengumpulkannya di Padang Mahsyar.

Baca juga : /beruk-tidak-pernah-menyeleweng/

Dari sisi budaya dan kehidupan berbangsa, budaya adalah sesuatu yang sangat berharga dan modal utama dari sebuah bangsa. Makanya ketika Amerika mampu menghancurkan kota Nagasaki dan Hiroshima tetapi tidak menghancurkan budayanya, dalam waktu beberapa tahun saja Jepang sudah membalikkan keadaan dengan mampu menguasai industri dan ekonomi dunia.

Begitu juga majunya bangsa Korea dan China sekarang, bukan karena besar negaranya atau banyak penduduknya, tetapi ilmu pengetahuan dan keterampilannya yang menjadikan mereka mampu memenangkan kompetisi dunia.

Sebaliknya hancurnya negara Uni Soviet yang besar digdaya serta termasuk negara adi kuasa bersama Amerika, yang hancur atau terpisah-pisah bukan fisik atau pulau-pulaunya. Yang hancur atau lenyap adalah aturan dan semangat yang mempersatukan rakyat dengan para pemimpinya dan sekaligus mempersatukan tanah atau pulau di Negara Uni Soviet tersebut.

Begitu juga dengan modal utama para pejuang dan pendiri bangsa ini dulunya, adalah semangat juang patriotisme, kerelaan berkorban, ingin bebas dan merdeka, ingin mengambil hak yang dirampas penjajah dan sebagainya atau bukan fisik yang utama. Hanya dengan modal bambu runcing, para pejuang yang bahu membahu dengan rakyat bisa mengalahkan senjata penjajah yang cukup canggih pada era tersebut.

Baca juga : /sudah-tua-masih-tk/

Syair lagu kebangsaan Indonesia Raya, bangunlah jiwanya baru setelah itu bangun badannya, yang tentunya ada maksud kenapa bangunlah jiwanya didahulukan. Dari uraian diatas, terilhat jelas betapa maha pentingnya isi atau software atau jiwa yang diwakili oleh agama dan budaya serta ilmu pengetahuan dalam raga anak bangsa ini.

Lalu, bagaimana yang terjadi dengan agama sekarang? Itu mungkin yang seharusnya menjadi pertanyaan penting bagi mayoritas anak bangsa atau bagi para pemimpin negeri ini. Bangsa Indoneisa yang berideologi Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dan sila kedua Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, serta sila ke lima Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung konsekwensi bahwa semua warga Negara Indonesia harus atau wajib beragama atau mempercayai adanya Tuhan Yang Maha Esa. Lalu dengan mempercayai adanya Tuhan, tentunya juga percaya bahwa Tuhanlah penguasa Alam Semesta, Tuhanlah Yang Maha Pencipta, Tuhanlah Yang Maha Kuasa dan berikut segala sifat Tuhan lainnya. Dengan ketentuan wajib beragama bagi semua warga Negara Indonesia, seharusnya semua anak bangsa ini bisa mengatur dirinya sendiri tentang hak dan kewajiban terhadap bangsa dan terhadap sesame anak bangsa. Karena agama berasal dari sansekerta a artinya tidak dan gama artinya tidak teratur atau agama artinya tidak tidak teratur atau teratur.

Baca juga : /haruskah-virus-yang-mengubah-perilaku-manusia/

Tujuan agama berarti sejalan dengan hadist tentang tujuan Allah mengutus Rasulullah ke muka bumi ini, yaitu menyempurnakan akhlak manusia. Karena dengan akhlak, manusia bukan saja bisa menjadi teratur tetapi bisa jadi saling mengasihi, saling memberi, saling menolong dan sebagainya. Tetapi belakangan ini agama oleh sebagian orang malah dijadikan alat untuk mengadu domba, untuk mencari kedudukan dan harta serta menjadi alat menghina dan memfitnah orang lain atau agama lain.

Padahal bukan itu isi dan tujuan dari agama, sehingga agama sekarang mungkin bisa dikatakan kehilangan isinya, agama menjadi turun nilai kemuliannya. Agama sekarang sepertinya menjadi besar kotaknya tetapi kecil isinya. Apa buktinya? Salah satu tandanya adalah semakin ramai dan riuhnya ibadahnya tetapi semakin mengecil hikmah dan akhlak umatnya serta semakin tidak teratur bahkan semakin sulit diatur.

Yang lebih parah lagi oleh sekelompok warga bangsa ini, agama dijadikan alat untuk menghina dan memfitnah orang yang tidak disukai atau kelompok lain yang tidak seperahu dengan mereka. Bayangkan ada sekelompok manusia yang mengatas namakan agama, lalu melarang jenazah dari yang bukan satu kelompok dengan mereka untuk disholatkan di masjid, padahal dalam ketentuan agama menyelenggarakan jenazah adalah kewajiban semua umat yang masih hidup. Apalagi tandanya agama tinggal kotaknya? Banyak orang menjual agama dengan harga murah untuk mencari rezeki, dengan embel syariah atau menegakan syariah tetapi isinya mereka inginkan sesuatu.

Baca juga : /bung-karno-tan-malaka-secita-cita-namun-berbeda-rasa/

Bagaimana budaya sekarang? Hampir sama, budaya yang seharusnya menjada software atau pengendali keserasian kehidupan berbangsa dengan kekayaan kearifan lokal yang saling mengisi antara satu suku atau etnis dengan etnis lainnya, serta sesama dalam etnis tersebut sekarang seperti sudah kehilangan fungsinya. Rumusnya, semakin tinggi budaya sebuah bangsa semakin tidak diperlukan aturan atau ketentuan yang mengatur dan mengikat kehidupan sebuah bangsa lalu menghukum pelanggarnya.

Sepertinya tingginya budaya bangsa Jepang, bila mereka salah maka mereka akan malu dan menghukum diri mereka sendiri, sebelum hukum Negara bertindak atau diperlukan meluruskan penyimpangannya. Berbanding terbalik yang terjadi pada sebagian anak bangsa di negeri kita ini, jangankan menggunakan menggunakan budaya untuk keharmonisan kehidupan berbangsa, untuk menegkan hukum saja kadang sulit.

Baca juga : /pancasila-bukan-ciptaan-bung-karno/

Demikian, pemikiran dan kegalauan kami sebagai anak bangsa mengamati perkembangan negeri ini akhir-akhir ini. Semoga bermanfaat dan menginspirasi.***

Jakarta, 13 April 2020

Penulis adalah seorang Innovator, Inspirator dan Author

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here