Beranda Budaya Benarkah Orang Magek Itu Panjua (Penjual) Anak ?

Benarkah Orang Magek Itu Panjua (Penjual) Anak ?

0

“Kama ang ma egek-egek ?”

Oleh : Kasra Scorpi

” Suatu ketika dulu, seorang gaek  (Tua)dan seorang anak muda bertemu di persimpangan jalan, keduanya saling bertanya. Orang gaek (orang tua) bertanya kepada anak muda, kama ang? (kemana kamu), anak muda menunjuk ke suatu tempat dan tempat itu dinamakan dengan nagari Kamang. Lalu anak muda bertanya pula pada gaek, kama gaek (kemana gaek), si gaek menunjuk ke suatu tempat berbeda, tempat itu kemudian dinamai dengan nagari Magek.

Ada juga cerita, saat dua orang berpapasan dijalan lalu bertanya, “kamaa ang ma egek- egek” (kemana ‘ang =kamu untuk laki-laki’ berjalan tergesa-gesa), dijawab “ka ilia” dan sebaliknya dia bertanya “ang kama” (kamu kemana), dijawab “ka mudiak”, jadilah Kamang Ilia (hilir) dan Mudiak (Mudik), sementara Ma egek- egek menjadi Magek,  tetapi cerita ini hanya ota orang lapau (cerita warung kopi) sebagai hiburan, kebenarannya entah ia entah tidak.

Baca juga :Risau Danau Maninjau

Tetapi kedua nagari itu baik Kamang Mudiak, Kamang Hilir dan nagari Magek kini tergabung dalam kecamatan yang sama di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, yakni kecamatan Kamang Magek.

Masyarakat kecamatan ini terkenal heroik dan daerahnya termasuk basis perjuangan dalam perang Paderi pada abad ke-19 dengan tokohnya Tuanku Nan Renceh, dan basis perjuangan Perang Kamang atau perang Blasteng melawan Belanda tahun 1908 yang dipimpin Haji Abdul Manan.

Baca juga : Potret Potensi Ekonomi Rakyat di Desa Yang Terlengahkan

Di era rezim Orde Baru yang represif muncul seorang “iron lady” anggota DPR RI dari nagari Magek, bernama Aisyah Amini.  Tokoh ini adalah politisi Partai Persatuan Pembangunan. Di masa orde Baru dia cukup disegani!

Dia sangat lantang dalam memperjuangkan kebijakan yang menyangkut kepentingan rakyat dan kesetaraan gender. Tak heran jika di masa itu Aisyah Amini mendapat julukan ‘Singa Betina dari Senayan’.

Baca juga : Kampung Den Yang Mengkota

Secara ekonomi mata pencarian masyarakat Magek bertani sawah, perikanan, kerajinan kuliner dan bertukang. Di jorong Koto Marapak kampungnya Aisyah Amini terkenal produk karupuak jangek (kerupuk kulit) terbuat dari kulit kerbau atau kulit sapi.

Pada September 2013 wakil gubernur Sumbar Muslim Kasim didampingi camat Kamang-Magek Wendri Sipado mengunjungi produksi rumahan Karupuak jangek di Jorong Koto Marapak-Magek (foto doc, Donny Magek Piliang)

Proses pembuatn kerupuk kulit diawali dengan menyingkirkan bulu pada kulit, kemudian direbus, dijemur dan digoreng. Kerupuk berderuk (yang rasanya enak dan gurih digunakan sebagai teman makan nasi atau makan sate).

Baca juga : Mampukah ‘Jaga’ (Dagangan) Orang Agam Hidup di Pasa Ateh Bukittinggi ?

Masyarakat Magek menjual kerupuk kulit ke pasar-pasar tradisional, memasoknya ke rumah-rumah makan dan ke pedagang sate di kabupaten Agam, kota Bukittinggi dan sekarang bahkan sudah sampai kepulau Jawa.

Di samping pembuat karupuak jangek, masyarakat nagari Magek lebih terkenal sebagai peternak anak ikan. Anak ikan asal Magek berupa tawas, pawas, rayo dan ikan emas berkualitas tinggi dengan rasa enak, cepat berkembang pada kolam-kolam pemeliharaan.

Baca juga : Mengenal Lebih Dekat Daerah Basis Perjuangan Perang Padri dan Perang Balesting Kamang-Magek

Anak ikan asal Magek dijual ke kampung-kampung di seantero kabupaten Agam dan sekitarnya yang dijajakan oleh orang Magek sendiri dengan mendagangnya dalam limas terbuat dari upih pohon pinang. Orang Magek berjaja (bajojo) anak ikan sampai ke tempat yang jauh, masuk kampung ke luar kampung dengan jalan kaki. Salah satu sentra ternak anak ikan (bada) ini berada di jorong Kasiak.

Tetapi itu dulu. Sekarang usaha anak ikan semakin berkurang akibat air sungai tempat pemeliharaanya tidak kondusif lagi, tercemar oleh berbagai jenis limbah, disamping pemerintah telah banyak mendirikan Balai Benih Ikan (BBI) di sejumlah kecamatan lain.

Walaupun usaha produksi anak ikan kian memudar, orang magek sampai kini masih disebut-sebut sebagai orang penjual anak, “urang Magek panjua anak”(orang Magek Penjual Anak).

Baca juga : Sekilas Mengenang Tilatang Kamang Lamo

Untuk membesarkan anak ikan masyarakat Kamang Magek tidak hanya melakukanya di kolam-kolam tetapi juga pada sawah yang digenangi dengan air, sehingga sawah berfungsi ganda, satu lahan multi fungsi.

Sementara pada tetangga nagari Magek, tepatnya di Jorong Babukik dan Jorong Halalang, Nagari Kamang Mudiak, Kecamatan Kamang Magek terdapat Danau unik yang berair pada musim-musim tertentu dan mengering  pada waktu yang tidak dapat diperkirakan.

Danau Tarusan yang terletak di Nagari Kamang Mudiak, saat kering (foto google)

baca juga : Perang Kamang/Perang Blasting 1908, Gugurnya Sang Syuhada dari Magek, Yusuf Datuak Parpatiah Nan Sabatang

Pada waktu mengering danau ini  berubah menjadi hamparan padang rumput hijau. Saat  berisi air menjadi sebuah danau, dimana di bagian tengahnya terdapat tumpukan tanah yang tidak dibenami air, yang oleh masyarakat setempat itu disebut Padang Data.

Danau Tarusan Kamang juga dimanfaatkan warga untuk budi daya ikan, kubangan kerbau, memancing, dan mandi. Saat kering, ikan-ikan dalam danau banyak terperangkap dalam tambak-tambak yang dibuat warga. Jenis ikan di danau tarusan antara lain pantau, nila, rayo, panser, bada putih.

Baca juga : Batik Tulis Sampang, Dari Madura Menembus Pasar Dunia (Part II)

Sekarang Danau Tarusan merupakan salah satu destinasi wisata di Kabupaten Agam. Letaknya dari kota Bukittinggi hanya belasan kilo meter. Jalan-jalanlah ke sini menikmati keindahan alam dan keramahan warganya serta untuk menikmati enaknya kuliner setempat.***

Penulis adalah pemimpin redaksi dMAgek.ID

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here