Beranda Kolom Seandainya Hamka Tak Dipenjara Orde Lama

Seandainya Hamka Tak Dipenjara Orde Lama

0

Oleh : Sondri BS

Kata-kata bijak “Tak ada malang yang semujur ini” kadang tersua dalam kehidupan ini. Dalam cobaan-cobaan kehidupan terkadang ada kebaikan yang didapatkan setiap manusia. Hamka yang dianggap sebagai seorang penentang rezim Orde Lama dan dipenjara, memberi pelajaran kepada kita, selalu ada hikmah dalam setiap ujian dan cobaan.

Hamka bahkan berterima kasih kepada rezim Orde Lama yang dipimpin Soekarno yang telah memenjarakannya selama dua tahun empat bulan. Selama itu pulalah Hamka menyelesaikan karya besarnya Tafsir Al-Azhar yang banyak dipelajari dan dipakai sebagian besar umat Islam di Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Dalam derita penjara, Hamka menemukan cara memberi makna pada hari-hari yang dilewatinya.

Benar kata orang, penjara bagi seorang pemikir atau intelektual hanya memenjara badannya. Dinding dan jeruji penjara membuat pikiran orang-orang seperti Buya Hamka justru mengembara dan menyelam ke dalam kitab suci Al-Qur’an. Hamka menafsirkan Al-Qur’an dalam keheningan yang kadang diperlukan oleh para pemikir, intelektual, seniman, para ilmuwan untuk menciptakan hal-hal besar yang bermanfaat bagi umat manusia.

Kita bisa bayangkan bagaimana perasaan Buya Hamka saat menyelesaikan karya fenomenalnya itu. Perasaan terzalimi dan kesedihan yang menimpa sejak ia dijemput oleh aparat, dibawa ke penjara dan siksa derita penjara sejenak mungkin saja terlupakan. Mungkin saja Hamka tersenyum saat menuliskan kalimat terakhir dalam karya besarnya itu.

Walaupun Hamka pernah marah besar, membenci Bung Karno, PKI dan tokoh-tokohnya serta rezim Orde Lama, sebagai seorang yang besar dan berjiwa besar Hamka telah memaafkan mereka yang menzaliminya. Itu beliau buktikan dengan memaafkan dan bahkan beliau menjadi imam salat jenazah Bung Karno.

Seandainya Hamka tidak dipenjara tentu akan lain pula halnya. Atau Hamka tidak menentang Soekarno dan rezim Orde Lama, mungkin juga Hamka akan tetap menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia. Bahkan mungkin Hamka akan diberi jabatan-jabatan mentri oleh Bung Karno. Tentu Buya Hamka akan disibukan oleh berbagai urusan yang menyebabkan beliau kesulitan mencari waktu terbaik untuk menulis karya sebagus tafsir Al-Azhar.

Di penjara Buya Hamka akhirnya menunjukan bahwa manusia bahkan bisa membuat suatu yang bermanfaat bagi banyak orang tanpa harus memiliki kekuasaan, jabatan dan uang. Seandainya beliau tak dipenjara dan terhanyut dalam kekuasaan dan jabatan, mungkin orang-orang tak akan mengenang dan mengingatkan Hamka sebesar nama dan jasanya saat ini.***

Penulis merupakan Redaktur Eksekutif dMagek.ID dan aktifis ’98

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here