Beranda Harmoni Kreasi Dekade Ini, Indonesia Sulit Memiliki Sastrawan Besar (bag.1)

Dekade Ini, Indonesia Sulit Memiliki Sastrawan Besar (bag.1)

0

Oleh : Sondri BS

Sampai akhir tahun sembilan puluhan tradisi kesusastraan Indonesia masih berada dalam iklim yang baik. Generasi penulis sastra pada masa ini masih terhubung dan dipengaruhi oleh eforia dunia sastra pada dekade tahun tujuh puluhan, delapan puluhan sampai sembilan puluhan. Sastrawan-sastrawan besar baik prosais atau penyair dengan julukan sastrawan masih menghiasi ruang-ruang kesusastraan baik melalui media-media massa atau penerbitan karya-karya mereka dalam bentuk buku.

Karya mereka jadi perbincangan dalam rubrik-rubrik kesusastraan dan kebudayaan atau dalam forum-forum akademis dan non akademis. Karya mereka jadi perbincangan dalam kelompok-kelompok kecil maupun dalam seminar-seminar besar.

Para kritikus sastra penuh semangat mengulas, memberi kritik dan menemukan sisi-sisi kesusastraan, sosial dan kemanusiaan dalam karya-karya mereka.

Orang tua dan muda masih antusias mengikuti pembahasan karya-karya yang dipandang memenuhi standar-standar karya sastra. Rasa haus untuk menyelam dan menemukan nilai-nilai kemanusiaan dalam karya yang dipandang sebagai karya sastra yang betul-betul sastra menjadikan perbincangan karya sastra itu terasa lebih bermakna.

Setelah angkatan balai pustaka dan pujangga baru, dekade empat puluhan Chairil Anwar cs menjadi booming dunia sastra Indonesia yang terus diingat dan dipelajari sampai saat ini. Generasi itu kemudian disusul generasi lima puluhan, enam puluhan, tujuh puluhan. Ada banyak nama besar dan karya besar yang mengiringi generasi Chairil Anwar. Ada Iwan Simatupang, Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, Soebagyo Sastrowardoyo, Abdul Hadi WM, Hartojo Andangdjaya, AA Navis, NH Dini, Gunawan Muhammd, Sapardi Djoko Damono, Taufik Ismail, YB Mangun Wijaya, Umar Kayam dan banyak nama dan karya besar lainnya.

Begitu juga dekade tujuh puluhan dan delapan puluhan yang masih berada dalam aura dan  kegairahan kesusastraan Indonesia. Disusul nama-nama besar di akhir tujuh puluhan sembilan puluhan seperti Sutardji Calzoum Bachri, WS Rendra, Budi Dharma,  Putu Wijaya, Hamid Jabar, Wisran Hadi, Rusli Marzuki Saria, Darman Moenir. Akhir abad dua puluhan muncul generasi yang berhasil menorehkan nama-nama mereka dalam jagat sastra Indonesia.

Walau akhirnya merekapun kini mulai meredup. Di antara generasi itu terdapat nama-nama seperti Afrizal Malna, Seno Gumira Ajidarma, Radar Panca Dahana, Gus Tf Sakai, Agus Noor, Sony Farid Maulana, Yanusa Nugroho, Yusrizal KW, Jamal D Rahman, Dorothea Rosa Herlaini, Adri Sandra, Iyut Fitra dan kemudian disusul beberapa penulis muda seperti Ayu Utami, Eka Kurniawan, Dwi Lestari, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini,  Agus Hernawan, Djenar Maesa Ayu, Yetti A.KA dan beberapa penulis mutakhir lainnya.

Bila ditinjau dari segi jumlah generasi penulis sastra mutakhir ini sebenarnya cukup ramai. Namun cenderung kehilangan fokus dan konsistensi dalam berkarya. Ada banyak faktor yang mempengaruhi. Era demokrasi yang kemudian disusul oleh perkembangan telekomunikasi dan informatika mungkin juga ikut berpengaruh, dimana ruang-ruang yang memiliki intensitas untuk “pergulatan” wacana sastra terasa sudah kurang menarik. Kritikus sastra yang memberikan apresiasi dan kritik yang memiliki kualitas juga kian sepi. Tak ada lagi orang sekaliber H.B Jassin dan beberapa nama kritikus besar lainnya.

Pasca reformasi justru yang mulai berkembang dan digandrungi adalah karya-karya populer yang dengan mudah dicerna dan menyuguhkan daya tariknya yang instan ke banyak pembaca yang awam sastra. Apalagi guru-guru yang mengajar sastra dan bahkan dosen pengajar sastra banyak di antaranya penggemar sastra bergenre populer.

Mainset menulis untuk mencari uang dan menjadi kaya kian menggoda para calon penulis, termasuk mereka yang mulai berkiprah dalam penulisan fiksi. Kumpulan puisi yang bernuansa sastra kurang laku dan begitu juga karya-karya fiksi yang lebih memiliki nilai-nilai sastra seperti pergulatan sosial budaya yang terasa berat dan atau tragedi dan satir tentang kemanusiaan yang lazim terjadi dalam kenyataan tak menarik dan membahagiakan untuk dibaca.

Kecenderungan pendangkalan dari segi intensitas penulisan dan pergulatan pemikiran kian terlihat dari karya-karya puisi dan prosa yang bermunculan. Ingin cepat dikenal sebagai penulis atau jadi pengarang ditambah ketersediaan ruang-ruang instan internet dan media sosial menjadikan kualitas tak lagi menjadi perhatian.***

Penulis adalah Redaktur Eksekutif dMagek.ID, hobi menulis sastra, aktivitas sosial, membaca dan pernah kuliah di jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia UNP, pernah kuliah S2 di jurusan yang sama namun hampir tamat, tapi belum tamat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here