Beranda KampuangDen Inderapura, Kerajaan di Pantai Barat Sumatra Yang Terlupakan

Inderapura, Kerajaan di Pantai Barat Sumatra Yang Terlupakan

0

Oleh : Bimbi Irawan

Inderapura saat ini, tidak lebih dikenal sebagai kota kecamatan sekaligus nagari di ujung selatan Kabupaten Pesisir Selatan. Jarak yang jauh dari pusat kekuasaan saat ini, baik dari Painan sebagai ibukota Kabupaten maupun dari Padang pusat pemerintahan Provinsi Sumatera Barat, telah membuat Inderapura itu semakin tersuruk. Padahal di masa lalu, ia adalah pusat kekuasaan dari sebuah wilayah yang luas di pantai barat Sumatera yang pengaruhnya dirasakan mulai dari Kota Padang sampai Kota Bengkulu saat ini.

Kontras dengan kondisi saat ini, pasca kejatuhan Malaka ke tangan Portugis, membawa berkah bagi Inderapura. Jalur perdagangan yang biasanya melewati Selat Malaka berpindah melintasi pantai barat Sumatera. Aktivitas pelayaran dan perdagangan inilah yang membuat Inderapura akhirnya berkembang menjadi sebuah kerajaan penting di pantai barat Sumatera. Kerajaan yang masih memiliki kaitan dengan Kerajaan Pagaruyung ini memiliki wilayah sampai ke Muko-Muko atau dikenal sebagai V Koto, Negeri XIV Koto atau juga disebut Anak Air yang mencakup lembah Manjuto dan Air Dikit, sampai lembah sungai Hurai di Bengkulu. Kerajaan Inderapura ini dikenal dengan produksi pertanian dan perkebunannya berupa beras dan lada.

Satu-satunya rival Kerajaan Inderapura di pantai barat Sumatera adalah Kerajaan Aceh Darussalam yang menguasai perdagangan lada di pantai barat Sumatera. Tiku dan Pariaman jatuh dalam kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam dan mengancam jalur perdagangan lada Kerajaan inderapura di bagian utara. Mengatasi hal ini, Kerajaan Inderapura pun mengembangkan pelabuhan-pelabuhannya di selatan yang sebagian besar saat ini masuk dalam Provinsi Bengkulu seperti Silebar untuk mengekspor lada via Banten.

Masuknya Kolonial Inggris dan Belanda ke pantai barat Sumatera, membuat lemahnya Kerajaan Inderapura. Satu per satu wilayah Kerajaan Inderapura mulai melepaskan diri dari Inderapura dan jatuh ke tangan Kolonial Inggris dan Belanda. Sebagian besar wilayah Kerajaan Inderapura di selatan dianeksasi oleh Inggris yang kelak saat ini menjadi Provinsi Bengkulu dan Inderapura sendiri akhirnya jatuh ke dalam kekuasaan Belanda. Bengkulu sendiri akhirnya menjadi bagian Kolonial Belanda setelah tukar guling Bengkulu dengan Tumasik atau sekarang Singapura. Singapura diserahkan Belanda ke Inggris, dan sebagai gantinya Bengkulu diserahkan ke Belanda.

Namun sayang, tidak banyak peninggalan Kerajaan Inderapura yang tersisa saat ini yang mampu menjelaskan kebesarannya di masa lalu. Namun setidaknya, kita masih bisa menyusuri sisa-sisa cerita kejayaan Inderapura sebagai kerajaan besar di pantai barat Sumatera di masa lalu. Selain memiliki wilayah kekuasaan dan pengaruh yang luas mulai dari Kota Padang di utara hingga Silebar Bengkulu di selatan, pengaruh Kerajaan Inderapura juga terasa sampai ke wilayah Kerinci, Air Bangis, dan Natal di Sumatera Utara.

Inderapura, Kerinci, bersama dengan Jambi menjalin sebuah persahabatan melalui perjanjian di atas Bukit Sitinjau Laut yang berisi untuk saling bekerja sama dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dalam pertahanan dan keamanan negeri. Perjanjian Bukit Setinjau Laut meneguhkan kesetiaan antara Inderapura dengan Kerinci sehingga tersebut “Laut nan berdebur Depati (pemangku adat di Tanah kerinci) yang punya, dan gunung yang tinggi miliknya Yang Dipertuan Rajo Inderapura”.

Betapa cair dan eratnya hubungan persahabatan itu, sehingga disebut samudera di sisi barat Inderapura menjadi miliknya para Depati di tanah Kerinci. Sebaliknya, gunung yang tinggi yang berada di alam Kerinci menjadi miliknya Rajo Inderapura. Karena itu pula, dahulu sebelum bernama Gunung Kerinci, gunung ini disebut dengan Puncak Inderapura. Perhatikan peta lama Belanda, gunung yang saat ini menjadi batas admnistrasi Kabupaten Kerinci dengan Kabupaten Solok Selatan ditulis dengan nama Puncak Inderapura.

Memang, kalau diperhatikan dari jalan utama pusat Nagari Inderapura, jalan yang membentang dari barat daya ke arah timur laut, tertumbuk ke arah Gunung Kerinci. Kalau cuaca cerah, Gunung Kerinci terlihat jelas dari Inderapura. Setelah Belanda menguasai Dataran Tinggi Kerinci dan menyadari bahwa gunung tersebut sebenarnya berada di wilayah Kerinci maka mulailah Belanda menamakan gunung tersebut dengan Gunung Kerinci.

Pengaruh Inderapura tidak hanya dirasakan ke wilayah selatan di Provinsi Bengkulu saat ini. Di wilayah utara di batas Provinsi Sumatera Barat dan Sumatera Utara tepatnya Air Bangis dan Natal, sebagian penduduk daerah ini meyakini bahwa nenek moyang mereka berasal dari Kerajaan Inderapura yang berlayar ke utara mencari daerah hunian baru.***

Penulis adalah peneliti pada Rancak Publik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here