Beranda Gurat Pena Kisahku dan BUMN, Setelah itu Hancurkan Kunci Kontaknya !

Kisahku dan BUMN, Setelah itu Hancurkan Kunci Kontaknya !

0

Oleh : Santa Prina

Saya tidak heran bin kaget sama hutang PLN 500T, PLN sejak dulu sapi perah penguasa. Apalagi sejak digadang-gadang  proyek listrik 35,000 MW. Tahun 2015 saya diminta pulang ke Indonesia salah satunya karena proyek gila itu.

Sebatas calo-calo batubara kelas cafe di mall pinggiran mungkin minta fee-nya $1 per ton. Berhubung yang minta gue pulang ke Indonesia itu pejabat2 senior, mereka berharap fee-nya $10 per ton, berharap mark up solar Rp. 2,000 per liter.

Berharap profit import gula $50 per ton, berharap fee proyek-proyek infrastruktur sampe proyek IT bank BUMN dan lembaga sandi negara, kenapa mereka berani patok nilai mereka segitu tingginya?

Kata mereka backingnya boss yang di pucuk atas, bahkan gue pernah kedatangan tamu ibu-ibu yang katanya pegang proyek tol Palembang. ‘Bu, ini perintah pak menteri’. Gue balik tanya, ‘Menteri siapa bu?’. Dia sebut nama si menteri dan lanjutin cerita.

‘Itu tol Palembang, sampai sekarang belum mulai-mulai karena investor Malaysia mundur. Padahal udah menang lelang sejak September 2015’. Gue bilang, ‘Cairin aja jaminan pelaksanaannya.’

Dia jwb, ‘Ga bisa bu.’

‘Trus gimana?’

‘Silakan tawarin ke investor lain dong bu. Akuisisi 95% saham perusahaan pemenang lelang, sisa saham 5% tetap di kami. Plus success fee 5%’.‘Emangnya berapa nilai proyeknya bu?’

‘ 15 T.’ Tampang gue disodorin proyek 15T berasa inces banget dah, mimpi apaan nyokap gue waktu hamil gue yak? .Kumat betingkahnya gue.

‘Bu, 5% dari 15T itu 750 milyar. Skrg ibu pikir dong. Tol di Palembang sana trafficnya berapa per tahun? Pantesan mundur investor Malaysia lo bu!’

Ga ada obrolan lanjutan, tiba2 besoknya gue ditelfon ibu itu lagi. ‘Bu, hari ini kita ditunggu sama Kepala BPJT bahas pertemuan kita kemarin.’

Waaaa…serius ni urusan.

Gue jawab aja, ‘Bu, saya udah bilang ga punya kemampuan sebesar itu. Kan itu levelnya orang-orang yang sering muncul di tivi bu! Kenapa jadinya ibu alihin ke saya?’

Gue bingung sampe telfon ke teman yang pernah kuliah di Belgia.

‘Itu urusan fee 5% yang dia minta, gue rasa kunci masalahnya di situ tuh! Lo kebayang ga itu fee bakal jd sakit kepalanya berapa orang? Berapa tahun tol itu cuma beroperasi uutuk balik modal urusan fee doang?’

Udah lah… kita jadi rakyat hari gini galak pun sah-sah aja.  Negara kita sedang ga baik2 aja.

Dari cerita-cerita  pengalaman seperti itu, sikapi benang merahnya secara bijak tanpa prasangka tapi mulai tegas dari sekarang. Acting marah-marah, sujud-sujud, melas-melas, curhat tentang utang, ujung-ujungnyanya privatisasi, IPO dan divestasi aset-aset negara.

Ibarat kita diiming-imingi untuk rame-rame ikut balapan F1, tiba-tiba terpaksa tarik rem tangan dari pada nyebur ke jurang. Mending jumpalitan sebentar toh masih bisa andalin seatbelts, airbags sama helm racing dari pada ke jurang, hancur berkeping-keping  dan tanki bensin meledak tidak karuan.

Penulis adalah koresponden Eroupa dMagek.ID dan mantan aktifis’98

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here