Beranda Inspiratif Arogansi vs Kerendahan Hati

Arogansi vs Kerendahan Hati

0
Foto Istimewa

Oleh : Lina Wahyuni

Nokia dulu menyebut Android sebagai semut kecil merah yang mudah digencet dan mati. Arogansi dan rasa percaya diri yang berlebihan membuat Nokia terjebak dalam innovator dilema. Sejarah mencatat, yang kemudian mati justru Nokia “tergeletak kaku dalam kesunyian yang perih”.

Kodak menyebut kamera digital hanyalah trend sesaat, berpikir kamera produksi mereka akan terus bertahan. Kodak terjebak halusinasi dan innovator dilema yang akut. Akibatnya, ruangan ICU yang pengap menanti raga mereka yang merintih kesakitan.

Micorosoft dan Intel (Dominasi yang dulu dikenal dengan duo Wintel) terlalu menikmati kekuasannya dalam dunia PC dan Laptop, lalu pelan pelan terjebak innovator dilema. Mereka terbuai dengan kekuasaannya, dan lengah betapa dramatis kecepatan kemajuan era mobile computing.

Kini era PC/Laptop sudah hampir berakhir, diganti era mobile smartphone, hegemoni Microsoft serta Intel kian menjadi tidak relevan dalam era smartphone. Intel, Microsoft lalu hanya duduk saling bertatapan mata, diam termangu. Dalam rasa penyesalan yang pedih dan pahit. Namun dalam bisnis, penyesalan tadak pernah mendapat tempat terhormat.

Pizza Hut terus menerus mengenalkan menu baru setiap enam bulan. Sabun Lifebouy ber-kali kali melakukan rejuvenasi. Facebook dan Bukalapak juga selalu melakukan evolusi.

Nokia kolaps dihantam iPhone blackberry di tahun 2007, padahal produsen iPhone bukan perusahaan telco, namun dari industri komputer.

Koran dan majalah mati bukan karena sesama rivalnya, namun karena Facebook / Social Media (remaja dan anak muda tak lagi kenal koran/ majalah kertas. Mereka lebih asyik main Path, IG atau FB. Pelan tapi pasti industri koran dan majalah akan mati).

Televisi seperti RCTI, Trans dan SCTV kelak akan kolaps bukan karena persaingan sesama pemain di industri yang sama, tapi dari makhluk alien bernama Youtube. Di Amerika, jumlah pemirsa televisi dikalangan anak muda dan remaja, menurun drastis. Dan semua lari ke Youtube. Ini juga kelak akan terjadi di tanah air kita.

Industri taksi seperti Blue Bird goyah bukan karena pesaing sesama taksi, namun dari Layanan taksi independen berbasis aplikasi. Di banyak negara, mayoritas perusahaan taksi konvensional mati digilas Uber dan layanan taksi berbasis aplikasi lainnya.

Dan kini produsen Toyota, BMW & Mercedes Benz takut bukan karena persaingan sesama mereka. Namun krn kehadiran TESLA, yg entah dari mana tiba2 melakukan inovasi radikal dgn produk mobil berbasis elektrik, dengan teknologi mobil tanpa sopir atau otonom (Autopilot Hardware).

Minggu lalu, mobil seri Tesla3 terjual hingga 300 ribu unit hanya dalam dua hari, padahal unitnya baru dirilis 2018. Jadi inden-nya dua tahun.

Manusia yg dapat segera beradaptasi dengan perubahan keadaan lingkungannya maka dia akan survive. Jika tidak dapat beradaptasi dengan perubahan maka mereka akan tersingkir dan punah dari lingkungannya.

Ide perubahan dan kreatif adalah salah satu wujud syukur.

Intinya, jangan terlena dengan “zona nyaman”. Berinovasilah dengan mimpi-mimpi  kita. “Kuncinya adalah kerendahan hati & mau belajar dari kelebihan orang lain, jangan pernah meremehkan apapun & siapapun”

Senada dengan tulisan diatas jauh2 hari pada Milad Islamic ke 24Tahun Gurunda MAM sudah mengingatkan kita untuk mengambil hikmah & pelajaran dari Qatar dan Uni Emirat yg merubah diri/inovasi dari negara petro dollar menjadi service Country, yang kini mulai diikuti oleh Saudi.

Sebagai penutup saya ingin sampaikan “Old System doesn’t work in new normal”

Welcome to New World Order..

Penulis adalah dosen pada Universitas Teknologi Yogjakarta, Staff Ahli pimpinan DPRD propinsi Yogjakarta, Asesor Kompetensi di Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here