Beranda Pojok Dedi Mahardi Pemikiran Buya Ahmad Syafii Maarif

Pemikiran Buya Ahmad Syafii Maarif

0
Dedi Mahardi bersama tokoh bangsa dan seorang negarawan sejati Buya Syafii Maarif di Gamping Sleman Yogyakarta (foto istimewa)

“Ketika ibu Megawati naik menjadi Presiden, alm bapak Taufik Kemas datang kepada Buya menawarkan jabatan menteri atau komisaris BUM terbesar di negeri ini. Akan tetapi Buya secara halus menolaknya, karena bagi Buya berkontribusi membangun dan memperbaiki bangsa ini jauh lebih penting dari pada posisi apapun”

Oleh : Dedi Mahardi

Buya Ahmad Syafii Maarif, seperti yang dikatakan oleh mantan Menkes Profesor Farid Anfasa Moeloek dalam acara memperingati hari kelahiran Buya yang ke 85, adalah agamawan dan ilmuwan serta negarawan. Tiga predikat yang langsung melekat pada diri seorang guru bangsa yang rendah hati serta bersahaja ini yang jarang bisa dimiliki oleh tokoh-tokoh bangsa lainnya.  Biasanya seseorang tersebut hanya seorang ilmuwan atau seorang agamawan atau seorang negarawan, atau paling banter dua prediket seperti ilmuwan yang negarawan atau seorang agamawan yang negarawan.

Tentunya bukan tanpa dasar atau justifikasi yang kuat, seorang mantan menteri berani menyandangkan 3 prediket besar tersebut kepada Buya. Pertama agamawan, disamping pernah menjadi sebagai ketua umum dewan pimpinan pusat Muhammadiyah organisasi keagaamaan kedua terbesar setelah NU di negeri ini (1999-2005). Beliau juga sangat mengusai ilmu keagamaan, bahkan disertasi S3 atau Ph.D beliau adalah dalam bidang pemikiran Islam.

Dan beliau sering mencurahkan pikiran dan sering diundang dalam berbagai seminar nasional dan internasional yang membahas masalah Islam atau perkembangan Islam. Disamping tulisan artikel tentang Islam, beliau juga menulis beberapa buku tentang Islam, diantaranya buku Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara. Yang kedua ilmuwan, sudah sangat jelas beliau adalah guru besar yang tidak saja menjadi pengajar di universitas negeri Yogyakarta dan Universitas Islam Negeri Yogyakarta tetapi juga sering diundang menjadi dosen tamu diberbagai universitas Negara lain.

Disamping itu juga ada beberapa penghargaan nasional dan intensional yang dianugerahkan kepada beliau atas pemikiran dan karya-karya beliau dalam bidang ilmu pengetahuan. Lalu yang ketiga negarawan, disamping menguasai ilmu kenegaraan beliau juga bersikap dan bertindak sangat negarawan yang selalu mengutamakan kepentingan Negara dan bangsa diatas kepentingan pribadi atau kelompoknya. Beliau tidak peduli dengan hinaan atau cercaan dari kelompok radikal atau intoleran terhadap sikap dan pembelaan beliau demi persatuan dan kesatuan bangsa. Bagi seorang Buya meneladani akhlak dan segala suri teladan Rasulullah Muhammad dengan sebenarnya lebih penting, walaupun harus menerim hinaan dari kelompok yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa ini.

Buya adalah orang yang sudah selesai dengan diri beliau, sudah tidak ada ambisi atau keinginan sesuatu untuk kepentingan pribadi ataupun untuk kepentingan keluarga beliau. Buya sangat menikmati hidup dengan kesederhanaan dan bersahaja, walaupun kesempatan dan tawaran untuk fasilitas kemewahan atau vvip selalu saja ditawarkan kepada beliau. Seperti halnya ketika beliau diundang ke istana Presiden di Bogor, beliau naik kereta api listrik dari Manggarai ke Bogor, padahal ditawarkan untuk dijemput oleh pihak istana.

Orang kebanyakan biasanya yang terbiasa hidup susah atau biasa saja akan sangat ingin mencoba menikmati kehidupan mewah atau diperlakukan khusus, dengan berbagai alasan. Tetapi Buya yang sejak kecil hidup sederhana, bahkan pernah hidup susah sehingga untuk membeli beras yang akan dimasak saja harus menunggu kiriman honor menulis memang berbeda. Orang kebanyakan biasanya ingin membalas dendam atas kesusahan hidup dimasa lalu dengan berusaha bisa hidup mewah dan berfoya-foya, tetapi tidak demikian dengan Buya.

Prinsip hidup Buya, mirip dengan prinsip hidup Bung Hatta seperti yang dapat kita baca pada buku Auto Biografi Bung Hatta yang ditulis oleh alm Deliar Noer. Bung Hatta yang hidup pas-pasan, bahkan untuk membayar tagihan listrik dan air saja kesulitan, menolak tawaran menjadi komisari pada perusahaan asing dan perusahan dalam negeri yang bergaji besar. Begitu juga dengan Buya Maarif, seperti yang diceritakan oleh seorang tokoh Bangsa, bahwa ketika ibu Megawati naik menjadi Presiden, alm bapak Taufik Kemas datang kepada Buya menawarkan jabatan menteri atau komisaris BUM terbesar di negeri ini. Akan tetapi Buya secara halus menolaknya, karena bagi Buya berkontribusi membangun dan memperbaiki bangsa ini jauh lebih penting dari pada posisi apapun.

Sebagai seorang ilmuwan dan sejarahwan, beliau tentu sangat memahami perkembangan Islam dari masa ke masa maka oleh karenanya beliau berusaha keras jangan sampai  umat islam terjerembab ke lubang keterpurukan dan perperangan. Maka Buya selalu ingin umat islam menjadi petarung yang memenangkan kompetisi dunia, umat islam muncul sebagai pionir dan terkemuka dalam segala bidang kehidupan. Umat yang menonjol dalam segala bidang kehidupan sehingga bisa menjadi dermawan buat membangun islam dan peradaban serta memajukan pendidikan umat dan bangsa.

Sejarah ilmu pengetahun yang banyak berasal dari dunia islam seperti aljabar dan ilmu kedokteran oleh ibnu Sina, harus mampu dibangkitkan kembali dan disesuaikan dengan kebutuhan kompetisi dunia saat ini. Umat Islam harus mampu kreatif dan produktif seperti bangsa Jepang, korea dan Tiongkok yang merajai produksi barang-barang yang berteknoligi tinggi. Sehingga seluruh umat islam mampu menjadi subjek atau pelaku dari pesatnya perkembangan teknologi dan inovasi dunia, tidak seperti sekarang sebagian umat hanya menjadi objek atau pasar dari produksi bangsa lainnya.

Dalam hal menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, Buya muncul sebagai tokoh utama bersama beberapa tokoh bangsa lainnya yang selalu menyuarakan pentingnya persatuan dan kesatuan Bangsa. Sehingga bagi kelompok radikal atau aliran keras, Buya sering disebut liberal bahkan ada yang mengatakan Buya tidak patut dipanggil Buya. Tentu saja bagi Buya tidak masalah sama sekali bahkan Buya mengatakan saya tidak dipanggil Buya tidak apa-apa, atau beliau mengatakan saya tidak usah dipanggil Buya.

Bagi Buya menjadikan Islam sebagai agama yang “rahmatan Lil’alamin” atau memberi rahmat dan kedamaian buat seluruh alam ini jauh lebih penting ketimbang berbagai sebutan atau slogan berbagai macam yang mengatasnamakan Islam”

 Semuanya ini beliau lakukan karena beliau tidak ingin negeri ini terjerumus kepada perang saudara atau kerusuhan panjang seperti yang sekarang terjadi di beberapa Negara arab. Pengalaman pahit kerusuhan Ambon dan Poso yang dipicu oleh sentimen agama dan kelompok, jangan sampai terjadi lagi di negeri ini. Karena dalam agama Islam juga tidak ada perintah untuk memaksa kelompok lainnya agar mengikuti ajaran Islam, bahkan tidak ada sama sekali anjuran atau perintah untuk mendirikan Negara Islam.

Begitu juga kelak di Padang masyar, tidak ada sama sekali pertanyaan kewarganegaraan. Apakah fulan warga Negara Islam atau Negara sekuler atau Negara komunis? Hidup damai berdampingan dengan semua pemeluk agama dan golongan sehingga bisa beribadah dengan tenang tidak saling mengganggu serta bisa berbuat amal kebaikan jauh lebih penting.

Buya Profesor Ahmad Syafii Maarif, Lahir di Sumpur Kudus Sumatera Barat, tanggal 31 Mei Tahun 1935. Menempuh pendidikan mulai dari pendidikan sejarah di Northtern Illionis University tahun 1973 dan memperoleh gelar MA dalam ilmu sejarah dari Ohio University, Athens Amerika serikat tahun 1980. Buya meraih gelar Ph.d dalam bidang pemikiran Islam dari University of Chicago, Chicago Amerika serikat tahun 1983, dengan disertasi “Islam as the basic of state : A study of the Islamic Political ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia”.

Dalam bidang akademik Buya menjabat sebagai guru besar sejarah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan IKIP atau sekarang Universitas Negeri Yogyakarta dan Institut Agama Islam Negeri atau sekarang Universitas Islam Negeri Yogyakarta. Buya pernah juga menjadi dosen tamu di Universitas Kebangsaan Malaysia dan McGill University Kanda. Dalam bidang Organisasi keagamaan, beliau menjadi wakil ketua pimpinan pusat Muhammadiyah (1995-1999) dan menjadi ketua umum pimpinan Pusat Muhammadiyah (2000-2005). Walaupun setelahnya banyak pihak meminta Buya untuk tetap memimpin Muhammadiyah, tetapi dengan alasan kaderisasi beliau menolak dan menjadi penasihat pimpinan pusat Muhammadiyah (2005-2010).

Beberapa penghargaan Internasional yang dianugerahkan kepada beliau diantaranya ; pada 2008 Ramon Magsasay Award dalam katagori Perdamaian dan pemahaman Internasional, Habibie Award tahun 2010, IBF Award katagori tokoh perbukuan Islam tahun 2011 dan beberapa penghargaan bergensi lainnya. Dalam dunia Internasional, beliau adalah presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP) yang berpusat di Amerika Serikat. Beliau juga sudah menulis puluhan atau mungkin ratusan buku tentang Islam dan Negara Islam serta tentang dunia internasional.

Jakarta, 13 Agustus 2020

Dedi Mahardi adalah penulis tetap dMagek.ID dan seorang Inspirator-Inovator-Author

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here