Beranda Pojok Dedi Mahardi Aji Mumpung Keluarga Jokowi

Aji Mumpung Keluarga Jokowi

0
Keluarga Presiden Jokowi (foto Dedi Mahardi/BPIM/dMagek.ID)

“Jangan sia-siakan kesempatan pertama, karena kesempatan berikutnya bukan lagi kesempatan pertama dan belum tentu ada lagi atau belum tentu lebih baik”

Oleh : Dedi Mahardi

Beberapa hari belakangan ini masyarakat bangsa ini dihebohkan atau disibukkan membicarakan pilkada Kota Solo yang akan berlangsung sebentar lagi. Kenapa pilkada Solo ini menjadi isu yang sangat panas dan menarik? Adalah karena tiba-tiba Gibran Rakabuming Raka muncul sebagai calon yang diusung oleh partai demokrasi Indonesia perjuangan PDIP yang partai pemenang pemilu nasional 2019 yang juga menang di kota Solo.

Padahal sebelumnya publik tahu bahwa sebelum-sebelumnya beberapa kali mas Gibran mengeluar pernyataan tidak tertarik pada politik dan lebih suka berwiraswasta atau berbisnis. Yang kedua, karena sebelumnya PDIP cabang kota Solo lewat mekanisme cabang partai sudah mencalonkan Achmad Purnomo sebagai bakal calon wali Kota Solo. Yang ketiga,

Gibran yang belum pernah masuk menjadi anggota partai politik manapun, apalagi menjadi pengurus partai politik tentunya belum punya pengalaman dan paham betul bagaimana dunia politik. Yang keempat, terkesan ada campur tangan sang ayahanda atau pak Jokowi dalam proses pencalonan sang putra sulung ini, kesan ini karena diundangnya bapak Achmad Purnomo ke istana oleh bapak Presiden.

Belum habis penasaran masyarakat terhadap pencalonan Gibran, muncul lagi pencalonan Bobby Nasution menantu Jokowi yang maju menjadi calon walikota Medan. Yang tentu saja menambah kesan semakin hilangnya rasa dalam diri Jokowi sekeluarga, yang selama ini menjadi nilai tambah bagi mantan walikota Solo sekeluarga. Walaupun hiruk pikuk pencalonan Bobby ini tidak hingar bingar berita pencalonan Gibran di Solo, tetapi tetap saja Bobby adalah bagian dari keluarga besar Jokowi yang tiba-tiba muncul di panggung politik negeri ini.

Bagaimana dengan faktor usia? Gibran yang kelahiran 1987 atau berusia 33 tahun bukanlah pemimpin daerah termuda jika kelak terpilih. Karena sebelumnya sudah banyak gubernur atau wali kota dan bupati kepala daerah yang masih mudah terpilih menjadi kepada daerah. Tercatat sudah ada Muhammad Ridho Ficardo, S.Pi, M.Si Gubernur Lampung yang kelahiran 1981 menjabat pada periode 2014-2019 atau dilantik pada saat berusia 33 tahun. Sehingga masalah usia atau dianggap terlalu muda tidak menjadi isu yang mengemuka dalam pencalonan Gibran sebagai wali kota Solo ini.

Ada kata bijak yang menyatakan “saking sayang kepada anak, yang sudah dalam kerongkonganpun dikeluarkan lagi untuk anak”. Begitulah gambaran bagaimana sangat sayang dan besar pengorbanan orang tua terhadap anak-anak mereka. Kasih sayang yang berlebihan tersebut terkadang membuat orang tua lupa atau mengabaikan akibat yang bisa timbul karena terlalu memanjakan atau menyayangi anaknya.

Bahkan mungkin ada sebagian orang tua yang akhirnya salah jalan atau melanggar norma-norma kepantasan karena menuruti kemauan anaknya atau karena orang tua ingin anaknya dapat sesuatu. Namun ada juga pepatah yang mengandung arti sebaliknya, “Sayang sama kampung ditinggalkan dan sayang sama anak dilecut”. Artinya sayang kepada anak dilecut adalah untuk memberi semangat dan motivasi kepada anak untuk berjuang keras serta berusaha menghindari kesalahan-kesalahan.

Pertanyaannya, apakah ini salah atau benar atau apakah ini baik atau tidak baik? Jelas sekali bahwa masalah pencalonan Gibran ini tidak salah atau sudah benar. Pertama karena sesuai dengan undang-undang dasar Gibran punya hak untuk memilih dan dipilih, dan Gibran bukanlah warga Negara yang sedang dicabut hak politiknya sesuai dengan keputusan pengadilan.

Yang kedua, mekanisme proses pencalonan Gibran oleh PDIP telah dilakukan sesuai dengan aturan dan kewenangan partai. Yang ketiga, tidak ada atau belum ada undang-undang atau aturan yang melarang anak presiden ikut serta dalam pemilihan kepala daerah. Lalu pertanyaan kedua, apakah pencalonan Gibran ini baik atau tidak baik? Jawaban dari pertanyaan ini sangat tergantung dari bagaimana kiprah dan karya-karya yang dapat dilakukan Gibran jika kelak terpilih menjadi wali kota Solo. Jika kiprah dan karya-karyanya bisa memajukan kota Solo dan mensejaterakan rakyat kota Solo tentunya pencalonan ini menjadi baik untuk kota Solo dan baik juga untuk Gibran.

Sebaliknya jika kelak Gibran tidak dapat berbuat banyak atau malah tidak ada kiprahnya, maka pencalonan ini menjadi tidak baik untuk Gibran dan tidak baik juga untuk Kota dan rakyat Solo.

Bagi penulis yang menulis buku Integritas Bangsaku yang ditetapkan menjadi buku utama KPK RI, menulis buku Revolusi Mental yang best seller serta menulis buku Indonesia Butuh Jokowi yang juga best seller. Pertanyaanya adalah apakah elok atau kurang elok bukan elok dan tidak elok pencalonan Gibran ini?

Pertanyaan apakah elok atau kurang elok ini level diatas kepatuhan terhadap hukum dan diatas adab dan etika, karena secara hukum dan adab etika tidak ada hal yang dilanggar dalam pencalonan Gibran sebagai calon wali kota Solo ini. Begitu juga dengan adab dan etika, secara adab dan etika, pak Jokowi mengundang dengan hormat bapak Achmad Purnomo ke Istana presiden dan membicarakan hal ini secara kekeluargaan. Tidak sembarang orang yang diundang ke istana presiden.

Penulis yang bukan anggota partai politik memberanikan diri menulis buku Indonesia Butuh Jokowi, alasan utamanya adalah karena Jokowi sekeluarga terbukti tidak korupsi dan kolusi serta nepotisme atau KKN. Alasan yang kedua, selama menjabat wali kota solo dan gubernur DKI Jakarta,

Jokowi sangat berintegritas, jujur dan berani membela kepentingan yang lebih besar atau kepentingan masyarakat luas. Apalagi pada saat baru dilantik menjadi presiden tahun 2014, Jokowi juga menetapkan program Revolusi Mental yang walaupun sampai sekarang tidak terasa dan tidak terdengar suara gendangnya.

Penulis juga menerima tawaran menjadi penasehat paguyuban Sumbar Pemilih Jokowi disingkat SPJ yang mendeklarasi dukungan rakyat sumatera barat kepada Jokowi di rumah Aspirasi Menteng Jakarta pusat dan memberikan pencerahan disana bersama budayawan Radar Panca Dahana.

Mempertanyakan apakah elok atau kurang elok ini juga berhubungan dengan kiprah dan prestasi pak Jokowi membangun bangsa ini dan kiprah jokowi mengadakan perubahan besar dalam sejarah bangsa ini. Jangan sampai pencalonan Gibran ini menjadi handicap atau setitik nila dalam lautan prestasi dan karya-karya Jokowi.

Pertanyaan apakah elok atau kurang elok ini juga berhubungan erat dengan minimnya negarawan atau guru bangsa atau sosok teladan ditengah bangsa ini sekarang. Sehingga mayoritas bangsa ini berharap kelak setelah tidak lagi menjadi presiden pada tahun 2024 nanti, bapak Jokowi akan naik kelas menjadi negarawan besar atau guru bangsa ini.

Dan dari apa yang telah beliau hasilkan dan bagaimana kiprah beliau selama pemimpin bangsa ini, peluang pak Jokowi untuk naik kelas menjadi negarawan atau guru bangsa yang tetap dihormati dan disegani oleh semua elemen bangsa ini sangatlah terbuka lebar. Bahkan kalau perlu kita ingin pak Jokowi naik kelas menjadi pemimpin organisasi dunia seperti menjadi sekretaris jenderal perserikatan bangsa-bangsa atau PBB.

Dalam buku biografi Bung Hatta yang ditulis oleh Deliar Noer, Bung Hatta menolak ketika ditawari jabatan komisaris perusahan asing atau komisaris perusahaan Negara. Padahal dari segi kapasitas dan integritas serta jasanya kepada Negara ini, Bung Hatta sangat pantas menerima jabatan yang gajinya sangat besar tersebut dan tidak melanggar aturan atau adab etika dalam hal ini.

Akan tetapi beliau punya rasa mulia sebagai negarawan, kepada yang menawarkan beliau menjawab ; “apa kata rakyat nanti”. Sehingga beliau lebih suka hidup pas-pasan atau bisa disebut kekurangan dari pada mengabaikan rasa, rasa sebagai negarawan bangsa. Di Negara tetangga juga kita lihat ketika Presiden Pilipina Corazon Aquino dan keluarganya sedang mendapat simpati besar dari rakyat, beliau tidak mengambil kesempatan dengan mamajukan putra-putrinya.

Anaknya Nonoy Aquino baru maju dan terpilih menjadi presiden Pilipina berikutnya tahun 2010, setelah Cory Aquino tidak lagi menjadi presiden bahkan telah meninggal dunia.

Pertanyaan, apakah elok atau kurang elok ini akan dijawab sendiri oleh Gibran jika kelak terpilih menjadi wali kota Solo. Jika kelak terpilih menjadi wali kota Solo lalu Gibran berhasil dengan prestasi yang spektakuler atau sangat luar biasa membangun dan mensejahterakan rakyat Solo.

Maka sedikit banyaknya kesan kurang elok ini akan tereliminasi dengan sendirinya, dan berganti dengan kekaguman serta penyesalan bagi mereka yang sebelumnya meragukan. Dan menjadi pengobat kekecewaan bagi mereka yang kecewa dengan proses pencalonan wali kota Solo saat ini. Semua ini perjalanan waktu yang akan menjawabnya kelak.

Demikian, tulisan ini kami buat untuk dapat menjadi inspirasi dan pencerahan untuk pembaca.

Dedi Mahardi adalah penulis tetap laman dMagek.ID

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here