Beranda Pangana Patung Ayam Jantan di Puncak Jam Gadang ?

Patung Ayam Jantan di Puncak Jam Gadang ?

1
Pada zaman Jepang atap Jam Gadang mirip atap bangunan Klenteng atapnya bulat mirip kubah dan dipuncaknya ditancapkan patung ayam jantan menghadap ke Timur.

“Yang menjadi pertanyaan kenapa tukangnya tidak menggunakan semen? Padahal waktu itu pabrik semen sudah ada di Padang yang didirikan pada 18 Maret 1910 dengan nama NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij (NV NIPCM), sekarang perusahaan itu bernama PT Semen Padang”

Oleh : Kasra Scorpi

Sesuai dengan namanya, wilayah kota Bukittinggi memiliki banyak bukit. Menurut cerita orang tua-tua, di kota ini ada puluhan bukit di sekitarnya, namun bukit yang masih sering disebut-sebut hingga kini, antara lain, Bukik Kandang Kabau, Bukik Cubadak Bungkuak, Bukik Sarang Gagak, Bukik Jirek, Bukik Cangang, Bukik Apik.

Sementara menara Jam Gadang yang merupakan ikon kota Bukittinggi terletak di Bukik Kandang Kabau, yakni bukit paling tinggi berada pada ketinggian 936 meter di atas permukaan laut.

Menara ini dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rookmaker, sekretaris atau controleur Fort de Kock (kota Bukittinggi). Peletakan batu pertama dilakukan oleh putra pertama Rookmaker yang pada saat itu masih berusia 6 tahun.

Perancang atau arsitektur Jam Gadang adalah Jazid Radjo Mangkuto dan Sutan Gigi Ameh dari Koto Gadang.

Menurut penuturan masyarakat, Jam Gadang dibangun tanpa penyangga dan semen, melainkan hanya dengan menggunakan putih telur sebagai perekat yang kemudian dicampur dengan kapur dan pasir putih. Barulah setelah mengalami beberapa kali renovasi, semen digunakan untuk memperkokoh bangunanya..

Pembangunan menara Jam Gadang bertingkat-tingkat setinggi 26 meter dan luas 13×14 meter itu menelan dana 3.000 Gulden, jumlah uang yang cukup besar pada waktu itu.

Empat buah jam besar dengan diameter 80 Cm yang ditempelkan pada keempat sisinya berasal dari Jerman. Pabrik yang membuatnya Vortmann Relinghause, milik Bernard Vortmann. Mesin jam jenis Brixlion ini diproduksi pada tahun 1982. Keunikan jam ini, angka empat romawinyab dibuat IIII, bukan IV seperti lazimnya angka romawi.

Menara Jam Gadang hanya ada dua di dunia, satu lagi Big Ben di kota London yang tingginya 61 meter, sehingga Jam Gadang disebut-sebut juga sebagai kembaran dari Big Ben tersebut.

Sejak dibangun, Jam Gadang Bukittinggi telah beberapa kali mengalami renovasi, dan perbaikan, diantaranya tahun 2010 dan Juli 2018 kawasan Jam Gadang direvitalisasi oleh pemerintah kota. Pengerjaannya menelan biaya Rp.18 milyar dan rampung pada Februari 2019. Jam ini juga pernah rusak dan berhenti akibat gempa tahun 2016.

Sejak berdirinya Jam Gadang juga telah tiga kali mengalami perubahan bentuk atapnya. Pada zaman kemerdekaan Indonesia bentuk atapnya seperti sekarang, bergonjong empat, dimana gonjongnya seperti gonjong rumah gadang minang. Pada zaman Jepang atapnya mirip atap bangunan klenteng, sedangkan pada awal berdiri atapnya bulat mirip kubah dan dipuncaknya ditancapkan patung ayam jantan menghadap ke Timur.

Kenapa ada patung ayam jantan? Menurut cerita dari mulut ke mulut, patung ayam jantan itu merupakan sindiran terhadap orang Agam tuo yang selalu kesiangan dan juga sabagai media sosialisasi oleh orang Belanda untuk mengajak masyarakat mengunakan jam sebagai alat penunjuk waktu dan  jangan lagi menggunakan kokok ayam.

Sebagai pemberi tanda waktu, lonceng Jam Gadang berdentang setiap 30 menit, jumlah dentangnya disesuai dengan waktu.

Ketika kota Bukittinngi masih sepi dari hiruk-pikuk kendaraan, suara lonceng Jam Gadang terdengar ke pelosok nagari Kurai/Bukittinggi.

Kini Jam Gadang merupakan ikon utama kota Bukittinggi, sehingga pendatang ke kota ini merasa kekurangan bila belum berkunjung ke Jam Gadang.

Karena usianya yang semakin tua, menara Jam Gadang agaknya perlu uji kelayakan bangunan dan uji tingkat kemiringan karena kota Bukittinggi dilewati patahan Sumatra yang rawan terjadinya gempa bumi.***

Penulis adalah Pemimpin redaksi dMagek.ID

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here