Beranda Kolom Siapakah akan kita pilih, Mestinya yang Punya Manfaat Tiga Kemenangan

Siapakah akan kita pilih, Mestinya yang Punya Manfaat Tiga Kemenangan

3
Pasangan Bakal Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar Irjendpol Drs. fakhrizal - Dr. H. Genius Umar, S.Sos., M.Si. yang di usung oleh partai Golkar, Nasdem serta PKB (foto istimewa)

SIAPA yang akan kita pilih?  Pertanyaan seperti ini santer muncul dimana mana bersamaan dengan akan dilaksanakannya pilkada serentak di Indonesia dan Sumatra Barat.

Di Sumbar sendiri akan dilakukan pemilihan gubernur dan wakil gubernur,  13 bupati dan wabup serta wako dan wawako. Sampai Ahad kemarin, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumbar telah menutup masa pendaftaran calon, kecuali Pasaman yang sampai hari akhir penutupan, cuma mendaftar sato orang calon. Untuk itu KPU setempat akan melakukan perpanjangan pendaftaran sampai 11 September 2020 dengan terlebih dahulu melakukan sosialisasi ulang tentang pendaftaran calon tambahan tersebut.

Siapa yang akan dipilih? Pertanyaan calon konstituen ini sangat sulit dijawab karena bersifat sangat pribadi dan tertutup. Salah memberikan jawaban bisa berefek macam macam termasuk pencemaran nama baik. Sebab akan ada yang tidak senang jika namanya tidak disebut.

Tetapi memilih kepala daerah itu tidak seberat menghisap rokok atau minum teh talua. Hanya dengan satu kali tancap paku saja, kita sudah memilih pemimpin yang kita maui.

Namun masalahnya tidak sesederhana itu juga. Untuk menancapkan paku di kening, di mata, di hidung atau dimulut tanda gambar calon tersebut di bilik TPS nanti, kita juga harus punya pegangan dulu tentang siapa dia.

Di Sumatra Barat, masyarakatnya sudah memiliki patron dalam memilih gubernur dan wakil gubernur (kita batasi pokok bahasan disini dulu). Patron itu disebut dengan mekanisme alur jo patuik, patuik jo mungkin.

Sebelum mekanisme itu dipakai ada lagi paramater untuk menilai calon yang bersangkutan yakni takah, tokoh dan tageh.

Mekanisme alue jo patuik, patuik jo mungkin itu, secara sederhana bisa diterjemahkan dengan study personal tentang calon terkait, apakah pantas atau mungkin menjadi wagub misalnya.

Nah, untuk melihat posisi wagub tersebut kita lihat takahnya, artinya tampilannya, bawaannya, performancenya cocok tidak dengan jabatan wakil gubernur. Jika cocok, pilih. Tetapi tidak, jangan dipilih. Sebab yang akan menyesal itu, kita nantinya.

Kedua persyaratan tokoh, ketokohan. Ada tidak terlihat karakter tokoh di bawaannya dan di dalam dirinya. Tokoh, artinya jiwa kepemimpinan atau leadership. Tetapi harus dibedakan ketokohan politik dengan ketokohan swasta, itu berbeda jauh.

Leadership dalam kepemimpinan sektor swasta diikat oleh loyalitas karir, gaji dan funishment. Tetapi kepemimpinan di bidang politik tak ubahnya seperti melecut kaki seseorang tapi tidak pakai pelecut, tapi yang dilecut berlari kencang.

Lalu siapa akan dipilih? Apakah cawagub pemberang, pemarah dan penghardik? Tidak. Tipikal cawagub seperti itu diumpamakan pohon beringin ditengah kota. Batangnya tempat bersandar, dahannya tempat bergayut, daunnya tempat berteduh, dan uratnya tempat kita hidup.

Tamsil seperti ini tidak bisa dibuat mutlak seperti simbolik yang ditulis tetapi pedomannya seperti yang saya tulis.

Lalu apa yang disebut dengan tageh, adalah kemampuan jatidiri diatas rata rata. Pernah ndak mendengar istilah seperti ini “Iyo Tageh”, itu merupakan pengakuan atas kemampuan yang bersangkutan.

Misalnya saja, saat ada acara presiden di daerah, tiba tiba saja presiden menyebut nama yang bersangkutan di dalam pidatonyo, maka yang disebut tadi memiliki simbolik tageh, atau sesuatu yang menyalutkan, salut kita terhadap yang bersangkutan.

Setidaknya Tiga Manfaat

Saya menawarkan jika memilih calon wakik gubernur itu, setidaknya memberi tiga manfaat. Pertama, manfaat bagi yang bersangkutan, manfaat bagi orang yang ditinggalkan dan manfaat bagi teman dari teman yang ditinggalkan tadi.

Contoh kasus, jika calon yang akan kita pilih tadi sebagai cawagub, apakah dia akan naik kelas atau tidak. Maksudnya jika calon yang bersangkutan menjadi cawagub, apakah ruang lingkup permainannya menjadi bertambah dan dapat dia lakukan secara benar atau tidak.

Misalnya lagi, katakanlah calon itu seorang walikota dari daerah kecil, lalu saat dia menjadi wagub apakah dia bisa memompa kemampuan lebihnya dan memberikan manfaat bagi daerah dan rakyatnya.

Kedua, jika dia memang seorang walikota, jika dia kita pilih, berarti wakilnya akan naik menjadi walikota maka ini yang saya sebut tadi memberikan manfaat kedua jika dia kita pilih.

Secara politis sang wakil tentu akan berdoa juga siang malam supaya wakonya terpilih jadi wagub. Dan doa seperti ini biasanya mustajab karena dilakukan dengan sungguh, dengan doa dan upaya.

Selanjutnya, jika sang Wawa naik kelas jadi Wako, maka secara otomatis tentu jabatan wawako yang ditinggalkan harus diisi dengan pejabat baru.

Nah, kelompok pengganti wawako ini jumlahnya sangat banyak dan berasal dari berbagai kalangan, utamanya orang partai, mantan pejabat, pejabat, kawan pejabat dan malahan ada juga mantan wartawan.

Coba bayangkan jika kelompok pengganti wawako ini jumlahnya ada lima atau tujuh, misalnya, masing masingnya punya istri satu dan anak dua, maka akan ada empat kali lima dan tujuh orang yang berdoa kepada Allah agar cawagub yang bersangkutan terpilih, sebab jika sang wagub terpilih, maka akan ada peluang dirinya menggantikan wawako yang naik kelas menjadi walikota.

Nah ini yang saya sebut dengan multimanfaat memilih cawagub berkategori seperti yang saya sebutkan diatas.

Tetapi saya akan menambah satu lagi kategori manfaat bagi individu cawagub yang akan dipilih yakni jumlah masa pengabdiannya apakah panjang atau pendek. Jika panjang dan berpeluang dia menjadi gubernur atau menteri nantinya pilih. Sebab itu bermanfaat bagi nama daerah.

TETAPI Saya harus membatasi ruang lingkup pokok bahasan ini, terutama sekali tentang contoh kasusnya pada kota dan kabupaten tertentu saja. Sebab contoh kasus wakonya maju menjadi cawagub hanya terjadi di satu kota di Sumbar.

Bahwa kemudian pemikiran saya ini dianggap masyarakat setempat sebagai sebuah solusi, silahkanlah, jika hal itu memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.

Tetapi secara umum apa yang sampaikan tentang konsepsi memilih pemimpin dengan mekanisme alua jo payuik, patuik jo mungkin serta parameter ‘takah, tokoh dan tageh’ adakah skema paling benar dan hidup di tengah masyarakat Sumbar.

Namun pola ini memiliki rentabilitas terhadap money politik. Sebab jamak terjadi politik uang sering mengaburkan pilihan pemilih terhadap calon yang akan dipilih. Meski harus juga kita akui bahwa efek money politik itu tidak hanya terjadi di Sumbar tetapi merata di seluruh Indonesia.

Sebab itu pilkada serentak juga diidentifikasi sebagai serangan fajar serentak. (**)

Oleh : Awaluddin Awe
Analis Perilaku Pemilih

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here