Beranda Pangana Kopi Lasi “SELARAS ALAM” Adanya di Istana Rakyat

Kopi Lasi “SELARAS ALAM” Adanya di Istana Rakyat

2

Oleh : Hasril Chaniago

Hari Selasa pekan lalu (18/8/20), bersama sahabat Uwan Zukri Saad saya bertandang ke “Istana Rakyat Selaras Alam” di Nagari Lasi, Kec. Candung, Agam,  Kami sengaja datang untuk menemui Inyiak Suardi Mahmud, Panglima Istana Rakyat yang juga perintis dan penggerak komunitas petani Kopi Lasi Selaras Alam.

Setelah berbual hampir dua jam, ketika akan pulang kami dihadiahi biji (green bean) Kopi Lasi yang telah terkenal itu. Kopi lasi adalah jenis Kopi Arabika dengan rasa dan aroma yang khas, yang di kalangan penikmati kopi dikenal dengan specialty coffee dengan harga yang premium. Sebagai perbandingan, bila kopi biasa (Robusta) harga biji kering (green bean) sekitar Rp.15.000 per kilo, harga green bean kopi Arabika berkisar Rp.90.000-100.000 sekilo.

Hasril Chaniago bersama Inyiak Suardi Mahmud di halaman Istana Rakyat Selaras Alam Nagari Lasi kab.Agam (foto FB Hasril Chaniago)

Baca juga : Kebanggaan Rang Agam dalam Pilgub Sumbar Jangan Sampai Memicu Perpecahan Antar Sesama Warganya

Sampai di Padang, oleh-oleh Inyiak Suardi ini langsung saya roasting (rendang) dan giling di sebuah resto kopi terkemuka di Padang. Satu kilo gram green bean menghasilkan lebih kurang 800 gram bubuk kopi Arabika istimewa.

Alhamdullah, sejak sepekan itu setiap malam seduhan Kopi Lasi istimewa ini menjadi teman saya menulis di depan komputer. Ternyata memang sangat nikmat, tapi jangan diseduh pakai gula pasir. Cukup kopi tanpa gula. Kalau ingin manis,  tambahkan gula aren (saka niro), jadi bertambah nikmatinya. Kebetulan saja kami juga selalu ada.persediaan saka niro dari lahan sendiri di Payakumbuh.

Komunitas Kopi Lasi “Selaras Alam” didirikan oleh Inyiak Suardi Mahmud (77 tahun) sejak 2007 lalu. Mereka adalah para perintis penanaman Kopi Lasi di Nagari Lasi yang terletak di pinggang Gunung Merapi pada ketinggian 1.200-1500 mdpl. Sangat cocok untuk tanaman Kopi Arabika. kebetulan yang pertama memperkenalkan bibit Kopi Arabika tersebut ke Inyiak Suardi Mahmud adalah Uwan Zukri, waktu itu dibawanya dari Gayo, Aceh lebih kurang 10.000 biji.

Baca juga : Kakek Politisi PDIP Arteria Dahlan Pendiri PKI, Ini Penjelasan Hasril Chaniago

Komunitas “Selaras Alam” kini beranggotakan sekitar 20 petani Kopi Lasi. Luas areal kebun kopi yang telah panen/produksi baru sekitar 10 hektar. Kopi Lasi mulai belajar panen pada usia 18 bulan. Puncak masa produksi pada usia 7 tahun ke atas mencapai 1 ton per hektar/tahun. Kini, dengan produksi rata-rata baru 500 kilo gram per hektar, produksi “Selaras Alam” belum bisa memenuhi permintaan pasar.

Apalagi kopi ini sudah terkenal sampai ke Amerika dan Kanada. Tahun 2013 Kopi Lasi pernah diikutkan Expo Kopi internasional yang adakan Specialty Coffee Association of America (SCAA) di Seattle (Amerika Serikat), dibawa oleh Kepala Dinas Perkebunan Sumbar (waktu itu) Fajar Amir. Di sana diakui Kopi Lasi sebagai kopi istimewa dengan grade specialty coffee dengan nilai 86+.

Perintis Komunitas Selaras Alam adalah Inyiak Suardi Mahmud. Beliau adalah seorang pensiunan guru dan saya sudah mengenalnya sejak tahun 1982, kala itu saya mulai menjadi wartawan Singgalang di Bukittinggi. Inyiak Suardi waktu itu adalah Kepala SMA Pembangunan Bukittinggi merangkap anggota DPRD Agam (1977-1987). Bersama sahabat Asbon Budinan Haza (Alm), waktu itu mengajar di sana, saya sering menginap di Pustaka SMA Pembangunan, karena koleksi bukunya sangat banyak. Inyiak Suardi memang seorang pembaca dan kolektor buku yang hebat.

Kopi Lasi (foto google)

Baca juga : Akhirnya Serikat Pekerja Sejahtera PT. GTRI Seret Manajemen PT. GTRI ke Meja Tripartit

Dalam pandangan saya, Inyiak Suardi Mahmud adalah seorang tokoh masyarakat lokal yang ideal, selalu punya ide kreatif dan inovatif untuk memajukan kesejahteraan masyarakat.

Setelah pensiun sebagai guru tahun 2003, Inyiak Suardi Mahmud terpilih menjadi Wali Nagari Lasi. Waktu dilantik oleh Bupati Agam Aristo Munandar bersama puluhan wali nagari se-Kabupaten Agam, Inyiak Suardi satu-satunya Wali Nagari yang menolak memakai baju pamong praja putih-putih itu.

Beliau hanya mau dilantik pakai pakaian “cadiak pandai” bercelana batik (sarawa jawo) dan pakai jas dan kemeja tanpa dasi, lengkap dengan peci dan sendal (tarompa) datuak sebagai alas kaki. Bupati Aristo terpaksa mengalah dengan kemauan Inyiak Suardi, karena inyiak Suardi adalah seniornya. Inyiak Suardi Mahmud adalah Ketua KNPI Kabupaten Agam yang pertama (1974-1977) sedangkan Aristo Munandar jadi Ketua KNPI Agam sesudahnya (1977-1980).

Dalam usia 77 tahun Inyiak Suardi masih segar bugar dan tetap gesit, masih mengemudikan sendiri mobil Kijang petaknya dari Bukittinggi ke Lasi (lebih kurang 20 Km pp) setiap hari.

Masril Koto, Donny Magek Piliang, Guru Besar UI Prof Rhenald Kasali dan mantan Komandan Korp Paskhas TNI AU Marsekal Muda Harpin Ondeh saat melihat perkebunan kopi selaras alam di pinggang gunung Marapi Kab. Agam (foto Bajau/dmagek.id)

Di Lasi, kampung halamannya, Inyiak Suardi membangun “Istiana Rakyat” Selaras Alam sebagai markas dan pusat kegiatannya. Sejak Istana Rakyat ini berdiri (2009), banyak kegiatan dilakukan di sini. Bukan hanya untuk membicarakan Kopi Lasi, juga banyak kegiatan lain. Salah satunya, setiap tanggal 17 Agustus mereka melaksanakan Upacara Bendera memperingati Detik-Detik Proklamasi. Seperti upaca di Istana Negera di mana Presiden RI yang jadi inspektur upacara, di Istana Rakyat inspektur upacaranya adalah Inyiak Suardi Mahmud.

Semoga Inyiak Suardi Mahmud sehat selalu, dan komunitas Selaras Alam terus maju. Terima kasih oleh-oleh kopinya, kalau sudah habis nanti saya datang lagi.***

Penulis adalah wartawan senior dan budayawan Sumatra Barat

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here