Beranda Harmoni Kreasi Boots Merah Untuk Nadia

Boots Merah Untuk Nadia

0

Detak jarum jam 12 kali mengusik tidurku yang tidak begitu nyenyak, “ahhh.. masih tengah malam” ucapan yang terdengar seperti rintihan… kusapu muka dan poni tipis yang menghalangi pandangan samarku dengan dua jari.. “ah.. ini bukankah pergantian tanggal”sambil mengingat tanggal berapa hari ini.. “hmm… yaa ini ulang tahunku” desah Nadia sambil kembali memejamkan mata dan duduk disamping ranjang yang disinari temaram lampu kamar.

Pandangannya kembali menilik rak lemari paling bawah.. “sudah sekian tahun aku tidak melihatnya” melihatnya sama saja dengan melihat lembaran kisah masa lalu yang sebenarnya ingin dihapusnya. Dibukanya box cokelat yang sedikit berdebu, dan boots merah yang telah lusuh itu terlihat ingin diperhatikan.
 

Boots merah hadiah ulang tahunku 9 th silam dari Ayah, Nadia belia berdiri mematung didepan etalase toko sepatu ternama, mata bulatnya yang hitam nampak menelan semua sepatu boots berwarna merah itu. Seolah matanya bisa berkata “aku menginginkannya dengan sangat”.

“Nadia.. pilih sendiri hadiahmu dan jangan lama karena ayah ada jadwal operasi malam ini” seru ayah seraya masuk ke toko itu… aahh dunia seolah memancarkan pelangi meski itu dimalam hari, karena apa yang aku ingin kan bisa aku dapatkan kali ini. “baik ayah” seru Nadia bersemangat seraya berlari kecil menuju petugas toko.

Tak perlu waktu lebih dar 20 menit Nadia dan ayah sudah berada dimobil dan sebuah kantong berisikan sepatu boots berwarna merah tadi. Nadia berulang kali mengucap terimakasih kepada ayah atas hadiahnya itu. Ayah hanya melempar senyum dan mereka buru-buru balik kerumah karena setelahnya Ayah segera balik ke Rumah Sakit


Dengan perasaan gembira Nadia memeluk box sepatu itu dan masuk kedalam rumah, namun bahagia itu hanya sesaat sampai “Nadia.. darimana saja kau” suara tipis itu berseru dari ruang duduk. “aku.. aku dari luar bersama ayah” jawaban yang lebih terdengar sebagai bisikan. “hmm apa itu .. apa aku boleh melihat isi kantong mu”. Nadia tau ini akhir dari sepatu boots merahnya dan tanpa perlawanan Nadia memberikan kantong yang berisikan hadiah ulang tahunnya kepada Stefy saudara tirinya. “wah bagus sekali Nadia dan sepertinya ini cocok dikakiku” ucap Stefy seraya mencoba sepatu boots merah itu. Nadia hanya pasrah dan ..”bolehkah ini untukku Nadia?.. Kau tidak keberatana bukan?” suara tipis itu merayu Nadia. Seperti yang sudah-sudah Nadia akan memberikan apapun yang diinginkan oleh Stefy karena sebuah alasan yang tidak bisa dijelaskan.


Sambil menunduk dan meredam perasaan yang sangat sakit Nadia berlalu menuju kamarnya, tepat setelah pintu kamar ditutup Nadia meluapkan perasaannya dengan menangis dalam bungkaman bantal agar suaranya tidak terdengar,sampai lelah menggiringnya kealam bawah sadar dan.. Nadia terlelap.

Keesokan pagi dimeja makan yang selalu hening “bagaimana Nadia kau suka..” tanya ayah disela sarapan pagi mereka, dan pertanyaan itu menggiring 2 pasang mata lainnya melihat ke arah Nadia sementara satu pasang mata lainnya cuek seolah dia hanya menekuni sarapan dan lagu yang diputar pada headset nya. “Nadia suka sekali ayah.. terima  kasih ” jawaban Nadia membuat mata Stefy menyipit ke arahnya. Sementara sepasang mata milik mami lebih kepada M e n y e l i d i k.
Pertanyaan seram dari ayah itu berkahir kemudian dengan teriakan Aldo yang meminta aku dan Stefy untuk segera ke mobil dan berangkat karena ia ada ulangan pagi ini.

“Nadia.. kau tak akan mengatakan apapun bukan pada Ayah?” selidik Stefy dalam perjalanan mereka menuju sekolah. ”  kau tak perlu khawatirkan itu ” ucap Nadia sambil memperhatikan jalanan melalui jendela.”hmm bagus” terlihat kilatan senyum Stefy dari pantulan kaca.

Siang ini Nadia menolak pulang bersama dengan supir dan kedua saudara tirinya itu karena Nadia ingin kembali ke toko sepatu kemarin untuk menanyakan harga sepatu itu. Meski teriknya panas agak menyengat Nadia berjalan sambil beriul ringan. “hmm.. ini dia tokonya” .

“kak.. aku boleh tau kah harga sepatu boots merah itu” tanya Nadia pada petugas toko kemarin. “hmmm…bukannya kemarin kau sudah membelinya..  mau tau harga ya itu… ” angka yang disebut penjaga toko itu membuat niat Nadia yang berkeinginan membeli sepatu boots merah itu surut. “ohh terima kasih kak” kemudian Nadia berlalu sambil memegang dompetnya yang sudah pasti tidak cukup untuk membeli sepatu itu lagi.

Sepanjang perjalanan pulang Nadia berpikir keras mencari alasan dan jawaban jika ayah menanyakan perihal sepatu Boots merah itu. Dan mata Nadia berhenti disudut kafe yang menampilkan kelompok penyanyi akustik. Lagunya ringan.. Nadia duduk sejenak dengan memesan segelas es. Pengunjung kafe itu pada umumnya adalah remaja dan anak muda. Lagu-lagu yang disajikanpun lagu yang sedang hits ditangga musik saat itu.

Sambil menikmati es nya, Nadia berfikir “kenapa aku tidak coba saja bergabung dengan mereka” gumamnya pada diri sendiri. Saat group itu break 10 menit, Nadia mencoba menghampiri pemain gitarnya.. “hmm kak.. aku boleh bertanya” sapa Nadia pada cowo jangkung berkacamata itu ” ya dik.. apa?” hmm apakah kalian butuh penyanyi cewe?” ucap Nadia sedikit ragu. “yaah sebenernya sih butuh tapi belum nemu.. hehe” jawab sicowo jangkung itu ” eh kenapa? Kau bisa?” tanya sijangkung lagi “heh.. kenalkan aku Nadia dan aku tertarik bergabung apakah boleh?” Boleh saja sih.. owh ya aku Dias hmm.. coba kau bawakan satu lagu.. bisa main alat musik?” aku bisa gitar akustik”hmm main kan satu lagu ” everything I do nya Brian Adams mengalun melalui petikan lembut dan suara yang indah milik Nadia. Dias sampai takjub mendengarkannya dan beberapa anggota group lainnya menghampiri karena mendengar petikan dan suara Nadia.

Sejak saat itu jadilah Nadia bagian dari group akustik DELILA yang selalu tampil di akhir pekan untuk menghibur pengunjung kafe. Meski banyak permintaan untuk penampilan Nadia, namun dia susah untuk memenuhi semuanya dikarenakan jadwal sekolahnya yang sudah mulai padat dan ia tak ingin Ayah dan keluarganya tau.

hasil dari 5 kali manggung digunakan Nadia untuk membeli sepatu boots merah yang sama dengan yang dibelikan oleh Ayah .

“Nadia.. nanti malam ada acara dengan keluarga dokter Alberth kau harus ikut mereka mengundang kita semua, ” perintah ayah sebelum kami semua berangkat “baik ayah” jawab Nadia pasrah.

Nadia menggunakan rok hitam sebetis dan memadukannya dengan sepatu boots merahnya, dandanan yang tipis rambut diurai sepunggung. Nadia terlihat anggun dan ayah melihat sepatu boots merah itu seraya  tersenyum “bagus” seru ayah. Stefy melihat Nadia dengan pandangan bertanya dan dijawab oleh Nadia ” ini kubeli baru” diiringi tarikan nafas lega Stefy “aahh”.

Nadia menutup box cokelat  dan meletakkan kembali kedalam rak lemari. “hmm ” hanya tarikan nafas dan detak jarum jam memecah keheningan malam itu. kemudian diikutin serentetan pesan singkat di ponselnya dengan beragam gaya dan bahasa namun dengan satu maksud “selamat ulang tahun”. “aku sudah makin dewasa” gumam Nadia pada dirinya dan kembali menarik selimutnya untuk melanjutkan sisa malam itu.***(DeasyMP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here