Beranda Harmoni Kreasi Nadia.. Dokter Kontrak

Nadia.. Dokter Kontrak

0
Ilustrasi (photo by google)

Pagi yang berat.. setelah semalaman ia kurang tidur.. namun pagi ini Nadia harus bangun lebih awal karna dia akan ikut tes seleksi sebagai dokter di rumah sakit Taruna Bakti.

Sebenarnya kalau Nadia mau menggunakan nama Ayahnya, tentulah ia tidak perlu bangun sepagi ini. Tidak perlu mencari parkir yang Susah di Rumah Sakit yang memang besar dan ternama ini. Yaa Ayah Nadia selain seorang Ahli bedah, juga sebagai pemilik saham pada rumah sakit ini. Namun ia menolak bantuan Ayahnya Karena ingin mengukur kemampuannya sendiri.

“Kamu jadi bekerja di Rumah Sakit?” tanya ayah sore itu kala Nadia baru pulang mengurus semua dokumen yang diperlukan untuk melamar pekerjaan. “Ya ayah,Senin Nadia akan ikut seleksi masuk”. “Hmm.. siapa yang akan nge-tes kamu? Pak Wijaya?” Sepertinya iya deh yah.” Apa kamu mau ayah telepon Pak Wijaya?”Kalau aku dibantu bagaimana aku tau kemampuan Ku ayah,jadi kali ini biarkan Nadia mencoba sesuai kemampuan Nadia ya yah” bujuk Nadia setengah memohon pada Ayahnya. “Yaaah terserah kamu deh, namun kalo gagal kamu mau apa?” Ya Nadia akan tes di rumah sakit lain” jawaban yang sebenarnya dia juga tidak tau mau kemana. “Ya sudah usaha saja dulu” ucap ayah sebelum mereka larut dalam pikiran masing-masing .

Lain dengan Stefy kakak tiri Nadia yang tidak mau repot-repot melalui proses seleksi. Stefy ke kantor bersama Ayah dan langsung ditempatkan bersama Dokter senior dan ganteng Dr Ryan. Stefy yang masih dokter umum bergabung dengan Dr Ryan dalam team yang sangat solid . Setidaknya begitulah Stefy selalu bercerita.
Andai saja Stefy tau Dr Ryan adalah cowo idaman Nadia pada saat dia menjadi KoAs.

Nadia memarkir mobilnya dengan selamat pada parkiran yang menguji keahliannya mengemudi. Dalam hati Nadia berdoa semoga ia bisa Lulus Tampa bantuan Ayah. Dengan langkah mantap ia berjalan menuju gedung yang disebutkan oleh petugas jaga di lobi perkantoran rumah sakit.

Sesampainya didepan ruangan tes Nadia menemukan beberapa peserta tes yang sudah lebih dahulu sampai. ia menemukan satu kursi kosong dan memutuskan duduk sambil menunggu giliran.”Nadia Setiawan” terdengar panggilan Dari depan pintu ruangan tes tertulis memecah lamunannya. “Ya .. saya” Nadia bergegas masuk sambil membawa dokumen yang disyaratkan sebelum nya. “Untunglah ia jarang ke Rumah Sakit bersama Ayahnya,jadi tidak ada yang mengenal Nadia.

Serangkaian tes sudah dilalui Nadia, sampai lah ia di tes akhir “wawancara”. Sepanjang wawancara Nadia tidak menyebut sekalipun nama Ayahnya sebagai pemilik saham dan dokter senior pada rumah sakit itu. “Nadia hasil tes akan kami beritahu dalam dua hari kedepan melalui telepon, pastikan telepon mu diangkat” terimakasih Pak” Nadia meninggalkan ruangan dan bersiap balik.

Untung hujan tidak turun, meski awan terlihat sudah sangat berat membawa butiran air bersamanya dan terlihat sangat gelap,kalau hujan pastinya ia akan menunda waktu pulangnya dikarenakan payung yang ia bawa tertinggal di dalam mobil.

“Hei.. Nad” sapa Suara berat yang sudah dikenal Nadia yang memecah hening dikepalanya. Nadia berbalik dan mendapati pemilik Suara berat itu tersenyum.. manis banget bikin Nadia lupa menjawab sapaan yang sudah dilontarkan beberapa saat sebelumnya. Setelah tertegun sesaat, tepatnya sih hatinya melambung  “hei dok.. apa kabar” Nadia berusaha mengatasi kegugupannya dan kalau boleh menyembunyikan semburat kemerahan di wajahnya . “Long time no see, kamu ikutan tes disini? ” Tanya sang dokter ganteng yang tak lain adalah Dr Ryan. “Iyah dok coba coba di Rumah Sakit setenar ini biar kaya dokter ikutan Karen”  ah kamu bisa aja, udah kelar? ” Udah dong ini mau balik” ok deh good luck yah.” Dokter mau kmana? Mau balik sebentar istirahat tar malam ada operasi jadi mau istirahat” owh ok deh dok aku juga mau balik, duluan yah” Nadia mengakhiri mimpi indahnya  ” bye Nad” dah dok”  sambil berlalu menuju mobilnya.

“Nad.. Nad..” Suara tipis yang nyaring menghentikan langkahnya, siapa lagi kalau bukan Stefy. “Hmmm ” jawab Nadia dengan sedikit malas Tampa membalikkan badan.”Kau kenal Dr Ryan? Sejak kapan? Koq bisa sih?” Serbu  Stefy yang tidak memberikan ia celah untuk menjawab satu persatu pertanyaan yang menurutnya lebih suit Dari pertanyaan Pak Wijaya diruang wawancara tadi . “Ah kau menghentikan aku hanya untuk tau itu.. Stef aku dulu KoAs disini, udah? Aku mau balik.. ngantuk” Nadia buru-buru meninggalkan Stefy yang masih mencerna jawaban adik tirinya itu. “Jangan kau dekati yah kalau kau diterima disini, Dr Ryan incaran aku”. Teriak Stefy yang ditinggal pergi Nadia.“hei..hei.. Nad”hmmmm yeeee.. dah ah aku ngantuk” Nadia mengakhiri percakapan tidak penting itu.

“Arrghhh siapa juga yang mau nge gebet itu dokter” gerutu Nadia sepanjang jalan. Sebenarnya untuk urusan cowo Nadia sudah kapok bersaing dengan Stefy. Tidak bersaingpun Stefy dengan mudahnya menggaet cowo yang sudah dekat dengannya selama 3th walaupun stefy menyebutkan ancaman ini dan itu untuk meloloskan niatnya. Yang membuat  Nadia akhirnya menghindar dan mengalah Dari Stefy untuk cowo yang bernama Dony Aryo Susetyo mahasiswa kedokteran 2 tingkat diatasnya yang dia kenal sejak masa akhir SMA kala sering nyanyi di kafe.

Hari yang melelahkan itu ditutup Nadia dengan makan seporsi besar salad dan diakhiri dengan tidur, Karena memang itu yang dibutuhkannya.

Setelah hibernisasi selama 1 hari Tampa memikirkan apapun,hari berikutnya barulah Nadia deg deg an menunggu telepon Dari pihak HRD rumah sakit Ayahnya.

Bermalas malasan sepanjang pagi dan ia baru saja bermaksud untuk tidur kembali namun telepon nya berdering . Nadia menyimpan nomor Rumah Sakit dengan cermat, sehingga pada deringan kedua nomor yang menelepon memunculkan nama “rumah sakit Ayah” langsung di angkat. “Nadia Setiawan” sapa Suara diseberang sana . “Ya saya sendiri” ini saya Wijaya.. Anda dinyatakan Lulus tes seleksi masuk sebagai dokter kontrak pada Rumah Sakit Taruna, untuk kepentingan pengurusan dokumen kepegawaian silakan datang hari Jumat ktemu saya.” Penjelasan singkat Pak wijaya cukup menjadikan matanya yang tadi nya berat menjadi ringan dan seketika kantuknya menguap. “Terimakasih Pak” jawab Nadia singkat. Ia berucap syukur tak henti, “bilang ayah tidak ya?” Nadia memutuskan untuk memberi tahu Ayahnya nanti ketika ayah sudah di rumah.

Dan begitulah.. sekarang Nadia menjalani tugas nya sebagai dokter kontrak di Rumah Sakit Taruna. Sebagai dokter kontrak Nadia harus rela masuk pada shift jaga malam untuk satu bulan pertama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here