Beranda Budaya Irama Pahat Gazali Untuk Rumah Gadang

Irama Pahat Gazali Untuk Rumah Gadang

0

Gazali Bin M.Said, lahir di Canduang pada tanggal 1 Januari th 1930 dari Ibu Jamaliah dan seorang Ayah Muhammad Said yang berprofesi sebagai pembuat kerajinan khas Minang. Beliau sempat menggali ilmu di HIS selama satu tahun namun dikarenakan pecahnya Perang Dunia II beiau tidak bisa melanjutkan sekolahnya.

Setelah kondisi sedikit membaik dimasa penjajahan Jepang, beliau kembali mengenyam pendidikan di SD. Namun pergolakan yang masih terus bergulir hingga masa kemerdekaan sekolah pun terpaksa kembali diberhentikan sesaat.
Setelah kemerdekaan Indonesia barulah beliau kembali mengambil kursus selama 6 bulan.

Pada th 1942 saat itu beliau masih berusia 12 th mulai bekerja dibawah tekanan jepang di Asrama sebagai juru masak dan juru bersih bersih Asrama. Rasa bangga mulai terasa saat melihat bendera merah putih sudah berkibar di Bukittinggi. begitulah perjalanan hidup seorang Gazali dilanjutkan Sebagai Juru Cetak di Percetakan Surat Kabar Kedaulatan Rakyat pada th1945 sampai th 1947.

Saat percetakan diambil alih oleh pemerintahan dan dijadikan sebagai percetakan negara Sumatera Tengah ( Urips) beliau tetap bekerja sebagai juru cetak uang negara s/d th 1949 yang kemudian mendapat penghargaan Satya Lencana oleh Menteri Keuangan Indonesia dimasa Bpk Ali Wardana. Karir bekerja sebagai pejabat pemerintahan beliau berlajut sebagai pegawai kantor pengawas pada kantor Urusan Harta Bangsa Asing dalam masa transisi pemerintahan Indonesia.

Beliau dipindahkan ke kantor pengawasan kas negara di Padang setelah pengurusan Harta Bangsa Asing sudah selesai dilaporkan ke Pemerintaha Provinsi kala itu, setahun bertugas di Padang ,kemudian beliau dipindahkan ke Kantor Kas Negara Bukitting s/d th 1961.

Pada masa pergolakan PRRI dan kantor Kas Negara pun diduduki tentara masa itu, beliau kemudian dipindahkan ke Kantor Agraria sampai dengan masa pensiun th 1986.Gazali menikah dengan Nurmailis tanggal 14 Desember 1956 dan dikaruniai 10 orang anak 18 orang cucu dan 3 orang cicit.

Awal mula berkenalan dengan dunia seni ukir karena setiap saat melihat pekerjaan sang Ayah yang seorang tukang ukir. Perlahan-lahan beliau mencoba membuat miniatur rumah adat untuk souvenir pada th 1958. Dengan semakin berkembangnya dunia property saat itu serta adanya anjuran untuk menempatkan ciri khas Minang pada bangunan yang ada di Sumatera Barat pada th 1961, beliaupun ikut berkompetisi untuk menghadirkan ukiran ukiran di beberapa kantor pemerintahan di Sumatera Barat dengan karya pertama beliau di Kantor Gubernur TK1 th 1961.

Kalau ditanya seberapa banyak karya yang sudah dibuat, susah untuk beliau ingat karena begitu banyak karya karta beliau dalam hal seni ukir Rumah Gadang.Diantara karya karya beliau adalah ukiran pada Kantor Gubernur Sumbar, Kantor DPRD Sumbar, dan hampir semua kantor pemerintahan yang ada di Sumatera Barat kala itu.

Karya karya beliau dalam bentuk miniatur sudah dipamerkan dibeberapa negara yaitu di Seoul Korea Selatan pada tahun 1993, Berlin Jerman pada th 1996,Serta Pembuatan Rumah Gadang di Penang Malaysia pada tahun 1999.
Ibarat sambil menyelam minum air, dari sekedar hobi, seni ukir ini menjadi penopang perekonomian untuk menghidupi ke 10 anaknya, karena gaji sebagai pegawai pemerintahan yang saat itu pas-pasan. Setelah memasuki masa pensiun beliau memfokuskan perhatian ke seni ukiran Rumah Gadang maupun seni ukir Minang baik untuk Rumah Gadang maupun souvenir khas Minang.

Pada proses pembuatan Rumah Gadang beliau menyesuaikan dengan permintaan dari sipemilik, begitulah penyesuaian untuk masing-masing daerah yang memiliki keunikan dan falsafah daerah masing-masing yang diselami oleh para pemilik.

Dari sekian karya Rumah Gadang beliau sepertinya untuk wilayah Sumatera Barat sudah tidak ada yang tersisa maupun yang terawat, mungkin yang beliau buat di Penang Malaysia yang masih tersisa. Di Penang dibuat dalam bentuk sesuai denga Istano Basa Pagaruyuang, dimana menjelaskan asal muasal Minang. Proses pembuatan di Penang dilakukan dengan mengirimkan bahan ukiran dan pekerja disiapkan dari Bukittinggi.

Dikarenakan proses pembuatan Miniatur Rumah Gadang ini memang menyesuaikan dengan proses asli nya maka Pemprov Sumbar tertarik untuk memamerkan karya tersebut diberbagai Event Sumatera Barat.
Pemprov menawarkan kompensasi senilai 50 jt pada tahun 90an, namun tawaran ini dotolak oleh keluarga karena ini merupakan karya terakhir beliau. Sebelumnya, miniatur pertama sudah diberikan kepada Pemprov Sumbar untuk ditempatkan di Kenya dalam rangka hari habitat sedunia.

Saat ini, pembuatan ukiran hanya untuk Rumah,baik kantor maupun rumah adat, dan prosesnya pun dilanjutkan oleh anak pertama laki -laki beliau. Dimana karya paling anyar adalah perbaikian Rumah Gadang pada Anjungan Sumatera Barat di Taman Mini Indonesia Indah.

Arti Rumah Gadang bagi Beliau adalah sebuah rumah yang sarat dengan falsafah Minang,dan berharap untuk generasi penerus jangan sampai kita melupakan adat istiadat dan budaya, karena apa yang di siratkan pada Rumah Gadang bukan hanya sebatas rumah namun falsafah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Jangan sampai ukiran Rumah Gadang yang sarat akan makna dalam kehidupan tergerus waktu dan teknologi sehingga anak cucu generasi penerus tidak tahu asal muasalnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here