Beranda Harmoni Kreasi HIDUP DI NEGERI BAYANG-BAYANG

HIDUP DI NEGERI BAYANG-BAYANG

0


Oleh Irman Syah

Taman ini sesak oleh pedagang yang lalu lalang. Dikitarinya taman mulai dari ujung sampai ke pangkal, dari hilir hingga ke mudik, dari atas sampai ke bawah, dari sabang hingga merouke, dari kenyataan dan sampai wilayah impian: semua lenyah diinjak kaki, semua usang tuk diceritakan: tinggal manusianya saja yang makin rapuh, makin terpuruk dalam kenyataan yang amat menyakitkan.

Tersebab oleh keluarga sendiri yang sengaja memakan dari dalam katanya, korupsi menari di sana-sini. Jadi berita seantero negeri. Apa hendak dikata, begitulah perjalanan hidup. Keajaiban yang sesungguhnya diciptakan oleh yang Mahakuasa akhirnya menjadi sesuatu yang tak tepat arahannya. Lain kepala lain pula keinginannya.

Begitulah negeri ini memaparkan ceritanya. Layaknya taman yang selalu menghampar, semua ruang menjadi terpapar, silahkan saja membangun kabar dan sekalian kembangkan tikar. Atas nama kehidupan dan kematian yang semua itu sesungguhnya sejawat dekat. Andai lupa menghubungkannya risikolah yang bakal datang menimpa.

Demikianlah secuil kisah tentang taman insan di negeri tercinta. Banyak juga yang merasa hiba, tapi tak kuat jadi sengsara, akhirnya terlibat pula menipu data. Banyak kabar yang tersiar, semuanya dominan memunculkan sengketa. Jaringan sosial yang meraja lela memunculkan ego tak berkira. Apa pun yang akan tercipta, bisa saja jadi biasa.

Tak banyak yang bisa hirau akan kenyataan peristiwa, semua berlomba mengabarkannya. Begitu pula yang membacanya, ikut serta menyebarkannya. Begitulah dampak luar biasa, dari komunikasi yang tidak berkira. Semuanya mem-bah ke mana-mana, meluap di sini dan banjir di sana. Mungkin diperlukan kembali ke debar dada, menata hati dengan sempurna, agar tak semua dijadikan biasa atau alakadarnya saja.

Terlebih persoalan nilai bangsa serta hakikat hidupnya manusia. Jika semua bisa serasa, tentu terlahir sikap rapi dan tertata. Bukan dada kepongahan dan kesombongan yang mengemuka, apalagi persoalan harta. Mungkin di sinilah letak pentingnya, kata yang semestinya bermakna bijaksana, janganlah pula muncul yang bijaksini. Bukankah keegoan itu akan selalu menjatuhkan diri sendiri, memporak-porandakan kecintaan pada negeri, pada manusianya sendiri.

Tak terbayangkan apa yang terjadi bila kesadaran tidak dimiliki: semua akan lepas kendali dan terberai ke mana pergi. Tak tau lagi jalan kembali, makna pulang hanya mejadi mimpi, karena mabuk di diri sendiri.

Banyak sekali yang bicara hak, sementara kewajiban tak pernah dilaksanakan. Banyak pula yang ikut-ikutan hanya sekedar memperlihatkan, bahwa dia saja yang punya eksistensi dan mengada. Begitulah kecendrungan yang menjadi, karena banyak sekali menonjolkan diri, dan orang lain dianggap tak pernah berarti.

Sementara di pinggir sana, di taman sebelah kiri, di simpang yang tepat dengan lampu merah anak-anak mengais rezeki, tapi tak banyak yang peduli. Malah ada yang menganggap mereka sampah negeri. Kalau pendapat ini yang diyakini, maka negeri akan kehilangan generasi yang paham dan mengerti, tentang kepahitan dan himpitan hidup dalam kenyataan nafas sehari-hari. Bisa jadi saja mereka nanti lebih tangkas dan berbakti, akibat ingatan pernah diberi.

Di sini kata mesti dieja, di taman luas negeri tercinta, manusia telah kehilangan diri. Terlalu banyak bujuk dan rayu, membungkus sutera permainan. Terlalu banyak yang dipermainkan begitu pula yang memainkan. Hidup semakin menjadi beban, dan nasib buruk muncul berkepanjangan. Begitu perih rasanya dada, risau di hati tiada berkira. Resah terasa kian gelisah dan kusut pun malah semakin masai. Apalagi hendak dikata, gundah telah kian gulana pula dan duka pun makin berbunga lara. *

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here