Beranda Historical SURABAYA 10 NOVEMBER 1945 MEMBARA BAGAI “API NERAKA”

SURABAYA 10 NOVEMBER 1945 MEMBARA BAGAI “API NERAKA”

0

Oleh:Kasra Scorpi
Pertempuran rakyat Surabaya melawan tentara sektu pada 10 November 1945 merupakan pertempuran melawan tentara asing terdahsyat pasca kemerdekaan RI. Pertempuran yang berlangsung sekitar 3 minggu itu menewaskan setidaknya 6.000 – 16.000 pejuang dari pihak Indonesia dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Dari pasukan sekutu tewas kira-kira sejumlah 600 – 2000 tentara.

Pada pertempuran yang tidak seimbang dari segi peralatan militer, arek-arek suroboyo dengan semangat juang yang tinggi dan bersenjatakan apa adanya seperti bambu runcing tidak gentar memberikan perlawanan walaupun menimbulkan banyak korban jiwa dan meluluh lantakan kota sehingga Surabaya membara bagaikan api neraka, “inferno hell”.

Semangat betempur” merdeka atau mati” dan rela berkorban demi kemerdekaan RI dipompakan oleh Bung Utomo dengan pidato berapi-api yang dipancarkan melalui siara radio. Memang tidak sedikit warga yang kehilangan anggota keluarga, mereka bersedih tapi merelakan kepergianya demi kemerdekaan.

Wartawan Muriel Stuart Walker, wanita Amerika Skotlandia yang kemudian menukar nama dengan Ktut Tantri melukiskan sebuah kisah mengharukan pada pertempuran Surabaya yang diliputnya dalam buku Revolt in Paradise atau Revolusi di Nusa Damai:

“Pemandangan yang kulihat di desa-desa tidak terlupakan seumur hidup. Seorang kakek duduk di sudut gubuknya memandang ke langit,” Ada apa pak?”tanyaku. “Apa yang bapak susahkan?”. Sesaat dia memandang kosong kepadaku,ia kemudian bangkit dan membawaku masuk ke kamar tidur yang kecil. Di sana terbujur di atas lantai tiga tubuh dari pemuda-pemuda yang sudah tidak bernyawa, berumur antara empat dan tujuh belas tahun,”Anak-anakku”,kata orang tua itu. “Mati untuk kemerdekaan” katanya dengan bangga. Ini hanya tiga dari ribuan yang gugur dalam pemboman Surabaya.

Pertempuran dahsyat ini terjadi sebagai akibat dari masuknya tentara sekutu atau AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) ke Indonesia. Tentara sekutu di Surabaya adalah militer Inggris dari Brigade Infantri India 49 Maratha di bawah kepemimpinan Brigadir Mallaby.

Pasukan ini berintikan orang-orang India dalam militer Inggris yang disebut Indian Army. Mereka tiba di Surabaya pada 25 Oktober 1945. Tugasnya, menerima kekuasaan dari Jepang, melucuti dan memulangkan tentara Jepang, membebaskan tawanan sekutu, menjaga keamanan dan menyelidiki pihak yang diduga penjahat perang setelah Perang Dunia II selesai.

Namun bersamaan dengan itu membonceng pemerintahan Hindia Belanda yang akan menguasai Indonesia kembali. Hal ini menimbulkan kemarahan rakyat dimana-mana sehingga terjadi bentrok dengan pasukan sekutu. Pada tanggal 30 Oktober 1945 dalam suatu kerusuhan di Surabaya jenderal Mallaby tewas.

Terbunuhnya Mallaby membuat tentara Inggris murka. Kemudian Inggris mengirimkan Mayor Jenderal EC Mansergh sebagai pengganti Mallaby. Dengan waktu singkat ia mengeluarkan ultimatum kepada bangsa Indonesia di Surabaya agar rakyat Surabaya menyerahkan senjata sampai batas waktu yang ditentukan, 10 November 1945. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, tentara Inggris mengancam akan membumihanguskan Surabaya.

Gubernur Surabaya Suryo bergelora jiwanya, namun tetap berusaha tenang. Menghadapi situasi seperti itu, Pada 9 November Suryo kemudian mengadakan rapat dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Dan keputusan pun diambil malam hari pukul 23.00 WIB, lalu Gubernur Suryo justru berpidato menggugah semangat arek-arek Surabaya melalui siaran radio. Dengan tegas Gubernur Suryo menolak ultimatum sekutu untuk menyerahkan diri dan senjata.
Maka esoknya 10 November 1945 perang berkecamuk, Surabaya membara!*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here