Beranda Pojok Dedi Mahardi Membeli Kebodohan

Membeli Kebodohan

0

Dunia berputar begitu cepatnya dan semua berubah, ada yang berubah dengan cepat serta ada yang berubah dengan lambat, karena yang tidak pernah berubah adalah perubahan atau yang abadi adalah perubahan. Namun disisi lain, ada anak manusia yang mampu menjadi subjek atau pengendali dari perubahan dan ada anak manusia yang menjadi objek atau korban dari perubahaan tersebut.

Akibatnya jurang pemisah antara yang cerdas dengan yang tidak cerdas, antara si kaya dengan si miskin dan antara yang berpikir dengan yang tidak berpikir semakin jauh dan semakin luas menganga. Si cerdas atau si kaya menyalahkan si miskin atau si kurang cerdas yang tidak mau berusaha keras atau tidak mau seperti mereka atau dengan kata lain mereka tidak peduli dan cuma menyalahkan saja. Sebaliknya si miskin atau si kurang cerdas juga tidak respek atau malah iri dengki dengan si kaya atau cerdas, boro-boro mau mengikuti jejak si kaya atau si cerdas.

Sebagian mereka malah membully atau melakukan tindakan kriminal terhadap si kaya atau si cerdas, sehingga maraklah kasus begal sepeda motor atau begal sepeda dan begal-begal lainnya terhadap si kaya. Sehingga sekarang banyak begal ditengah masyrakat, ada begal kepakaran yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak tahu juntrungannya lalu merasa menjadi pakar dengan membully atau memfitnah pakar yang sebenar.

Ada begal keulamaan atau begal agama, oleh mereka yang seperti dikatakan oleh ketua umum PBNU ketika kami ketemu beberapa waktu yang lalu “kuliah atau belajar agamanya sebentar atau tidak selesai tetapi merasa lebih ulama dari ulama yang telah menyelesaikan pendidikannya bahkan ulama yang telah menulis tafsir kitab suci” . Ada mantan penyabung ayam lalu belajar agama sedikit langsung pakai sorban dan baju gamis, kemudian memproklamirkan diri sebagai ulama yang paling ulama, dan banyak lagi contoh yang lain.

Jika begal materi biasanya dilakukan oleh si miskin terhadap si kaya, maka begal logika atau begal intelektual atau begal kebenaran dilakukan oleh orang-orang yang kurang cerdas atau kurang intelek terhadap anak manusia yang lebih intelek atau lebih cerdas darinya. Dengan memutar balikkan fakta, memutar balikkan logika dan kebenaran, lalu mereka merasa paling benar dan paling pintar. Sehingga banyak kasus fitnah dan hoak yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak jelas terhadap orang-orang yang jelas-jelas telah punya kapasitas dan prestasi serta terhadap orang-orang terpilih atau orang-orang pilihan. Kurang cerdas yang dimaksud disini tentu tidak hanya menyangkut kecerdasan intelektual, tetapi juga bicara kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional. Karena ada juga mereka yang terpelajar atau pintar secara intelektual, tetapi tidak pintar secara spiritual dan emosional, hanya karena kebencian tanpa alasan lalu menyebar hoak dan fitnah di media sosial dan media lainnya. Akhirnya semua tindakan-tindakan kurang cerdas tersebut harus mereka bayar dengan penjara, atau paling tidak harus mereka bayar dengan bolak-balik diperiksa polisi, dijemput tengah malam ketika sedang tidur nyenyak dan sebagainya. Jumlah kelompok ini sepertinya semakin hari semakin banyak pengikutnya, mereka yang dulunya diam memendam ketidaksukaan atau kebencian, dengan pesatnya kemajuan teknologi digital akhirnya terpancing juga menyebarkan ujaran kebencian dan hoax serta fitnah di akun media sosial mereka.

Lalu bagaimana gejala membeli kebodohan ini di tengah masyarakat? Banyak sekali, diantaranya sebagian masyarakat yang membeli paket data hanya untuk menonton acara youtube atau media sosial yang tidak ada gunannya. Penulis perhatikan banyak sekali konten-konten tidak berguna atau malah konton negatif yang merugikan atau merusak pikiran serta hanya buang-buang waktu saja yang viral atau banyak penontonnya. Konten public figure sedang pamer kemewahan, pamerkan celana dalam dan lain sejenisnya cepat sekali viral ditengah masyarakat, sebaliknya konten-konten positif yang berisi ilmu pengetahuan, keterampilan tidak begitu banyak penontonnya. Ada sebagian masyrakat yang membeli mahal gadgetnya untuk sekedar pamer atau gaya, tanpa memanfaatkan banyak fungsi atau fiture yang berguna. Untuk barang konsumtif seperti ini, bahkan ada yang sampai berhutang atau mencicil untuk membayarnya.

Siapa yang menjual kebodohan ini?  Masyarakat yang cerdas melihat peluang dan sepertinya mereka paham betul ada kelompok masyarakat kurang cerdas yang bisa mereka jadikan konsumen atau pasar. Berbagai macam game dan permainan yang hanya membuang waktu dan membuang-buang pulsa data paket diciptakan oleh mereka dibelahan bumi sana. Pada saat masyrakat kurang cerdas ini terlena, mereka yang disana menambah ilmu dan keterampilan mereka untuk menciptakan produk-produk berguna lainnya, sehingga mereka semakin maju dan sejahtera.

Lalu apa solusi yang bisa ditawarkan untuk mengubah ini semua? Salah satunya yang mendesak dilakukan adalah gerakan membaca buku secara masif di tengah masyarakat dan aparat pemerintah atau aparat Negara. Karena dengan membaca buku, mereka menjadi punya pembanding atau komparasi dari bacaan mereka selama ini dari media sosial atau keyakinan mereka selama ini dari ceramah para penceramah radikal dan sering menyesatkan. Untuk ASN atau aparatur bisa diwajibkan membeli buku minimal satu buku dalam satu bulan ketika gajian, lalu membaca serta menulis resensi buku tersebut di sebuah web yang disediakan khsusus. Kemudian dari kegiatan ini diberikan reward dan punishment atau cukup reward saja.

Demikian, pemikiran dan kegalauan kami sebagai anak bangsa mengamati perkembangan negeri ini belakangan ini. Semoga bermanfaat dan menginspirasi.

Jakarta, 07 November 2020

Dedi Mahardi

Inspirator-Innovator-Author

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here